Auditor Empat Besar (The Big Four Auditors) adalah kelompok empat firma jasa professional dan akuntansi internasional terbesar, yang menangani mayoritas pekerjaan audit untuk perusahaan publik maupun perusahaan tertutup. Auditor Empat Besar adalah sebagai berikut, dengan data terakhirnya:
Firma Pendapatan Karyawan Tahun Fiskal
PricewaterhouseCooper [1] $28.2 miliar 146.700 2008
Deloitte Touche Tohmatsu [2] $27.4 miliar 165.000 2008
Ernst & Young [3] $24.5 miliar 130.000 2008
KPMG [4] $19.8 miliar 123.000 2007
Kelompok ini sempat dikenal sebagai "Delapan Besar", dan berkurang menjadi "Lima Besar" melalui serangkaian kegiatan merger. Lima Besar menjadi Empat Besar setelah keruntuhan Arthur Andersen pada 2002, karena keterlibatannya dalam Skandal Enron..
1. PricewaterhouseCoopers
PricewaterhouseCoopers (PwC) adalah kantor jasa professional terbesar di dunia saat ini. Kantor ini dibentuk pada tahun 1998 dari penggabungan usaha antara Price Waterhouse dan Coopers & Lybrand. PwC adalah yang terbesar di antara the Big Four auditors, yang lainnya adalah Deloitte, Ernst & Young dan KPMG.
Jenis : Partnership
Industri : Akuntansi, Jasa Professional, Perpajakan, Konsultansi
Didirikan : 1849 (nama yang sekarang digunakan sejak 1998)
Kantor Pusat : Kantor pusat di New York City
Tokoh Penting: Pimpinan Samuel A. DiPiazza Jr
Produk : Jasa Profesional
Pendapatan : 20.3 miliar dolar AS (2005) [1]
Karyawan : 130.000
Situs web : www.pwc.com
sejarah
Kantor ini dibentuk dengan adanya penggabungan usaha dari dua kantor besar yaitu Price Waterhouse dan Coopers & Lybrand. Kedua kantor ini memiliki sejarah panjang sejak abad ke-19.
Price Waterhouse
Samuel Price, seorang akuntan, mulai praktek di London pada tahun 1849. Dalam tahun 1865 Price membuat persekutuan dengan William Holyland dan Edwin Waterhouse. Sejak tahun 1874 kantor ini kemudian dikenal dengan nama Price, Waterhouse & Co. Holyland akhirnya meninggalkan persekutuan itu dan kemudian huruf '& Co' dan koma dihilangkan dari nama kantor tersebut. Di akhir tahun 1800-an, Price Waterhouse mendapat pengakuan sebagai suatu kantor akuntan publik tepercaya. Dengan berkembangnya perdagangan antara Britania Rayadan Amerika Serikat, Price Waterhouse kemudian membuka kantornya di New York dalam tahun 1890, yang kemudian kantor di Amerika ini berkembang dengan sangat pesatnya. Kantor asalnya di Inggris juga membuka banyak kantor di negara-negara Persemakmuran Inggris. Setiap kali mendirikan persekutuan terpisah di setiap negara, setiap sekutu yang diberikan insentif yang baik untuk meluaskan praktek lokalnya. Jadi kegiatan PW di seluruh dunia merupakan suatu gabungan kantor-kantor lokal yang berkembang secara alamiah dibandingkan dengan merupakan hasil dari penggabungan usaha internasional.
Coopers & Lybrand
Seperti PW, Coopers & Lybrand juga didirikan dalam abad kesembilanbelas. Dalam tahun 1854 William Cooper mulai berpraktek di London, yang tujuh tahun kemudian berganti nama menjadi Cooper Brothers saat ketiga saudaranya bergabung. Di Amerika Serikat dalam tahun 1898 Robert H. Montgomery, William M. Lybrand, Adam A. Ross Jr. dan kakaknya T. Edward Ross mendirikan Lybrand, Ross Brothers and Montgomery. Coopers & Lybrand merupakan hasil penggabungan antara Cooper Brothers & Co; Lybrand, Ross Bros & Montgomery dan sebuah kantor dari Kanada McDonald, Currie and Co. dalam tahun 1957. Dalam tahun 1990 Coopers & Lybrand bergabung dengan Deloitte Haskins & Sells di Britania Raya, namun sebagian dari Deloitte bergabung dengan Touche Ross dan membentuk Deloitte Touche Tohmatsu.
Untuk menambah pembentukan kantor di berbagai ibukota utama dunia, seringkali PW atau Cooper menggabungkan diri dengan kantor akuntan lokal. Dengan cara ini terbentuklah kantor-kantor di tiap negara dan menggelembungkan jumlah kantornya agar bisa menawarkan jasanya dimanapun mereka berada. Pertumbuhan juga dirasakan dengan bertambahnya kebutuhan audit khususnya setelah Depresi Hebat dalam tahun 1920-an dan 1930-an dan juga dengan bertambah kompleksnya perpajakan.
Sebagai kelanjutan usahanya dalam memperoleh skala ekonomis, PW dan Arthur Andersen pernah membicarakan suatu penggabungan dalam tahun 1989, namun akhirnya negosiasi ini gagal terutama karena adanya konflik kepentingan contohnya keterkaitan bisnis Andersen dengan IBM padahal PW mengaudit IBM. Dalam tahun 1998 Price Waterhouse dan Coopers & Lybrand bergabung dan membentuk PricewaterhouseCoopers. Tahun berikutnya, pembicaraan untuk menggabungkan PwC dengan Grant Thornton gagal. Oleh karena berkurangnya jumlah kantor-kantor besar, sepertinya otoritas pengatur kompetisi akan sulit meluluskan ijin penggabungan usaha.
Struktur dan jenis jasa
Bentuk hukum suatu persekutuan sangat berbeda dengan suatu perusahaan dan sebenarnya secara global kantor ini merupakan gabungan dari kantor-kantor anggota yang mempunyai otonomi sendiri dalam masing-masing jurisdiksi negaranya masing-masing. Rekan senior dari kantor-kantor anggota duduk dalam suatu jajaran direksi yang merupakan payung organisasi yang dinamakan PricewaterhouseCoopers International Limited, suatu perusahaan yang di Britania Raya yang melakukan koordinasi. Saat ini, secara global dipimpin oleh Samuel A. DiPiazza Jr, (52 tahun), seorang rekan ex-Coopers & Lybrand.
PricewaterhouseCoopers memberikan bidang jasa di banyak negara di antaranya:
• Audit dan Atestasi
• Perpajakan, (perencanaan dan kepatuhan terhadap peraturan perpajakan)
• Konsultansi, termasuk pemantapan kinerja, transaksi dan penggabungan usaha serta akuisisi, dan manajemen krisis dalam berbagai area spesialisasi seperti jasa konsultansi akuntansi dan aktuarial
Daftar klien
Sekitar 82% dari penghasilan tahunan PwC disumbang oleh Eropa dan Amerika Utara, Eropa sendiri mencatat sebesar 45%. Jasa yang paling dominan adalah Audit dan Atestasi, yang menyumbang lebih dari 50% pendapatan PwC.
Pada Maret 2005, klien audit PricewaterhouseCoopers termasuk empat dari sepuluh perusahaan publik terbesar di Amerika Serikat (ExxonMobil, Ford Motor Company ChevronTexaco dan IBM). PwC juga mengaudit empat dari sepuluh perusahaan terbesar di Britania Raya (GlaxoSmithKline, Royal Dutch Shell, Barclays dan Lloyds TSB).
Klien besar PwC lain di antaranya American International Group, Freddie Mac, Bank of America, JP Morgan Chase, Tesco, Unilever, dan Academy of Motion Picture Arts and Sciences, yang melakukan tabulasi pemungutan suara untuk Academy Awards.
2. Deloitte Touche Tohmatsu
Jenis : Swasta
Industri : Jasa Profesional
Didirikan : London, Britania Raya (1895)
Kantor pusat : New York City, New York
Tokoh penting : Pimpinan : William G. Parrett
Ketua : Piet Hoogendoorn
Produk: Audit, Perpajakan, Konsultansi, Jasa risiko korporasi, Penasehat keuangan.
Pendapatan: 18,2 miliar dollar Amerika Serikat (2005)
Karyawan : 121,283 (2005)
Situs web: www.deloitte.com
sejarah
Deloitte Touche Tohmatsu (juga terkenal dengan merek Deloitte) adalah urutan kedua terbesar di dunia dalam bidang jasa profesional setelah PricewaterhouseCoopers dan merupakan anggota dari the Big Four auditors, sebuah kelompok kantor akuntan internasional terbesar di dunia. Dalam tahun 2004, dengan 16,4 miliar dolar Amerika Serikat, mereka merupakan yang terbesar di antara the Big Four auditors dalam hal penghasilan. Sebagai tambahan dari jasa akuntansi, Deloitte adalah satu dari kantor penasehat bisnis yang terbesar di dunia yang menawarkan jasa manajemen strategik dan operasional pada perusahaan-perusahaan dalam Fortune 500.
Sebelumnya, kantor ini dikenal dengan nama Deloitte & Touche yang terbentuk karena bergabungnya Touche Ross dan Deloitte Haskins & Sells (di luar Kerajaan Inggris) pada tahun 1990. Dalam tahun 1993, kantor internasional mengubah namanya menjadi Deloitte Touche Tohmatsu, nama yang ketiga berasal dari kantor Tohmatsu & Co, yang bergabung dengan Touche Ross dalam tahun 1975. Nama kantor ini merupakan gabungan nama William Welch Deloitte, George Touche, dan Panglima Nobuzo Tohmatsu. Nama Deloitte adalah nama tertua yang terus-menerus digunakan dalam profesi akuntansi. Deloitte Touche Tohmatsu berbentuk hukum Swiss Verein, suatu organisasi keanggotaan berdasarkan Undang-undang Sipil Swiss (Swiss Civil Code) dimana setiap anggotanya merupakan badan hukum tersendiri dan independen. Kantor pusat globalnya berkedudukan di Manhattan, New York.
Menurut website-nya, sampai tahun 2004, Deloitte mempekerjakan 115.000 profesional pada hampir 150 negara, menawarkan jasa audit, perpajakan, konsultansi dan penasehat keuangan kepada lebih dari separuh jumlah perusahaan terbesar di dunia.
Deloitte di Indonesia di wakili oleh Osman Bing Satrio dan Rekan, juga didukung oleh PT. Deloitte Konsultan Indonesia dan Deloitte Tax Service.
3. Ernst & Young
Ernst & Young merupakan perusahaan global yang terdiri dari sejumlah perusahaan anggota. EY Global bermarkas di London, EY AS di New York, dan EY Indonesia di Jakarta.
Jenis : Perusahaan anggota mempunyai bentuk legal yang bervariasi, AS dan Britania: Limited Liability Partnership
Industri : Jasa professional
Didirikan : 1989; komponen individual dari 1849
Kantor pusat : London, Inggris, Britania Raya
Tokoh penting : James S. Turley, Direktur dan CEO
Produk : Audit, Perpajakan, Konsultasi.
Pendapatan : 24.523 juta Dolar AS (2008)
Karyawan : 135.730 (Global)
Divisi : Assurance, Tax, Transactions, Advisory (Lihat di bawah)
Situs web : www.ey.com
Sejarah
Pada tahun 1903, perusahaan Ernst & Ernst didirikan di Cleveland oleh Alwin dan Theodore Ernst. Pada tahun 1906, Arthur Young & Company didirikan di Chicago oleh Arthur Young.
Pada awal tahun 1924, perusahaan-perusahaan AS tersebut beraliansi dengan perusahaan dari Britania Raya, Young dengan Broad Paterson & Co, dan Ernst dengan Whinney, Smith & Whinney. Pada 1979, Ernst & Whinney terbentuk dan menjadi firma akuntansi keempat terbesar di dunia. Pada tahun 1989, peringkat empat bergabung dengan peringkat lima, Arthur Young, sehingga tercipta Ernst & Young ("EY").
Indonesia
Di Indonesia, EY berafiliasi dengan Kantor Akuntan Publik Purwanton, Suherman & Surja (PSS). Klien utama Ernst & Young antara lain Pertamina, Bank Negara Indonesia (BNI), Bank Rakyat Indonesia (BRI), PT Krakatau Steel & Group, Coca Cola Bottling Indonesia & Indosat
Struktur global
Setiap negara anggota EY dikelola sebagai bagian dari salah satu dari lima wilayah:
• Eropa, Timur Tengah, India & Afrika (EMEIA)
• Amerika
• Timur Jauh
• Oseania
• Jepang
Setiap wilayah memiliki sebuah tim manajemen tunggal, dipimpin oleh seorang Area Managing Partner yang duduk dalam Dewan Eksekutif Global (Global Executive Board). Seluruh wilayah mengintegrasikan model bisnis mereka.
Lini jasa dan pertumbuhan
EY memiliki empat lini jasa utama:
• Assurance, yaitu audit keuangan (assurance pokok) yang menyumbangkan 54% dari total pendapatan pada 2007.
• Tax, meliputi Business Tax Compliance, Human Capital, Indirect Tax, International Tax Services, Tax Accounting & Risk Advisory Services, dan Transaction Tax, dengan kontribusi pendapatan pada 2007 sebesar 22%.
• Transactions meliputi due diligence komersial, keuangan, real estat, dan pajak, merger & akuisisi, penilaian & pemodelan bisnis, restrukturisasi korporasi, dan jasa integrasi. Dikenal sebagai Transaction Advisory Services (TAS).
• Advisory, meliputi Technology and Security Risk Services (TSRS), Fraud Investigation and Dispute Services (FIDS), dan Business Risk Services (BRS). Sebelumnya lini jasa ini disatukan dengan Assurance dalam Assurance and Advisory Business Services (AABS). Lini jasa ini menyumbangkan 12% pendapatan pada 2007.
Bisnis jasa konsultasi EY berkembang sangat pesat selama tahun 1980-an dan 1990-an. Oleh karenanya U.S. Securities and Exchange Commission (Bapepam Amerika Serikat) dan anggota komunitas investasi sangat mengkhawatirkan kemungkinan terjadinya konflik kepentingan antara jasa konsultasi dan audit. Namun demikian, EY adalah yang pertama dari the Big Four auditors yang kemudian secara resmi melakukan pemisahan secara penuh atas kegiatan bisnis sistem integrasi dan praktek auditnya.
Klien audit global besar
Ernst & Young adalah auditor dari banyak perusahaan utama di Fortune 1000 seperti AOL Time Warner, Wal-Mart, Amazon.com, 3M, Oracle, McDonald’s, Google, Intel, Hewlett-P
4. KPMG
KPMG adalah salah satu perusahaan jasa profesional terbesar di dunia. KPMG mempekerjakan 104.000 orang dalam partnership global menyebar di 144 negara. Pendapatan komposit dari anggota KPMG pada 2005 adalah US$15,7 milyar. KPMG memiliki tiga jalur layanan: audit, pajak, dan penasehat. KPMG adalah salah satu anggota the Big Four auditors, bersama dengan PricewaterhouseCoopers, Ernst & Young dan Deloitte.
Jenis : Swiss Verein
Industri : Jasa professional
Didirikan : 1987; komponen individual sejak 1870
Kantor pusat : Amsterdam, Belanda
Produk : Audit, Pajak, Penaseha
Pendapatan : 15.7 miliar dolar AS (2005)
Karyawan : 104.000
Situs web : www.kpmg.com
Setiap perusahaan nasional KPMG adalah sebuah badan legal independen dan merupakan anggota dari KPMG internasional, perusahaan Swiss Verein yang bermarkas besar di Belanda. Pada awal 2005, perusahaan anggotanya di AS, KPMG LLP, dituduh oleh Departemen Kehakiman Amerika Serikat atas penipuan dalam memasarkan perlindungan pajak yang menyimpang dari hukum. Dalam suatu kesepakatan, KPMG LLP mengakui telah berbuat kejahatan dengan menciptakan perlindungan pajak palsu untuk menolong klien-kliennya yang kaya untuk menghindari pajak sebesar $2.5 milyar dan setuju untuk membayar hukuman denda sebesar $456 juta. KPMG LLP tidak akan menghadapi tuntutan hukum atas perbuatan kriminal ini selama ia setuju dengan syarat-syarat dalam kesepakatan dengan pemerintah.
KPMG International dipimpin oleh Michael D.V. Rake, Ketua, Mitra Senior KPMG di Britania Raya; Michael P. Wareing, CEO, Mitra KPMG di Britania Raya; John B. Harrison, Ketua-Wilayah Asia Pasifik, Mitra KPMG di RRT dan Hong Kong; Timothy P. Flynn, Ketua-Wilayah Amerika, Ketua KPMG di Amerika Serikat; Ben van der Veer, Ketua-Wilayah Eropa, Timur Tengah dan Afrika, Ketua KPMG di Belanda.
KPMG Indonesia
Di Indonesia, KPMG memiliki partner lokal yaitu KAP Siddharta & Widjaja yang dipimpin oleh Tohana Widjaja
(sumber: Wikipedia bahasa Indonesia)
Rabu, 27 Oktober 2010
Minggu, 03 Oktober 2010
Tugas: MENCARI ARTIKEL TENTANG "ETIKA PROFESI AKUNTANSI"
Tugas: ARTIKEL
Etika Akuntansi Program: Sebuah Kebutuhan Profesional
By David F. Bean and Richard A. Bernardi Oleh David F. Bean dan Richard A. Bernardi
DECEMBER 2005 - Fraudulent activities at Enron, WorldCom, HealthSouth, and other companies have had devastating effects on the financial markets and investors. Desember 2005 - kegiatan Penipuan di Enron, WorldCom, HealthSouth, dan perusahaan lain memiliki pengaruh yang sangat buruk di pasar keuangan dan investor. Many senior citizens anticipating retirement have found their assets and dreams decimated. Many ask, “Where were the auditors and accountants who were supposedly protecting our interests?” When upper management “plays with the numbers,” the public often assumes that the accountants and auditors act as willing and active participants in the process. Banyak warga senior mengantisipasi pensiun telah menemukan aset mereka dan impian hancur. Banyak bertanya, "Di mana auditor dan akuntan yang diduga melindungi kepentingan kita?" Ketika manajemen atas "bermain dengan angka," masyarakat sering menganggap bahwa para akuntan dan auditor bertindak sebagai peserta bersedia dan aktif dalam proses. Whether this is a fair assessment or not, the lack of ethics perceived by the public is a severe threat to the accounting profession. Apakah ini adalah penilaian yang adil atau tidak, kurangnya etika dirasakan oleh masyarakat merupakan ancaman parah pada profesi akuntansi.
Retaining or improving its previous level of trust and respect requires the profession to take proactive measures to restore its credibility. Mempertahankan atau meningkatkan tingkat sebelumnya kepercayaan dan menghormati profesi mengharuskan untuk mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengembalikan kredibilitasnya. The National Association of State Boards of Accountancy (NASBA) is reviewing the comments received on its exposure draft for Rules 5-1, “Education Requirements—Definitions,” and 5-2, “Education Requirements—Determining Compliance of the Applicant's Education.” A major issue in the exposure draft is the requirement for ethics courses in accounting education. Asosiasi Nasional Dewan Akuntansi Negara (NASBA) sedang mengkaji komentar yang diterima tentang draf eksposur untuk Aturan 5-1, "Pendidikan Persyaratan-Definisi," dan 5-2, "Pendidikan Persyaratan-Menentukan Kepatuhan Pemohon Pendidikan." Masalah utama dalam draf eksposur adalah persyaratan untuk program studi etika dalam pendidikan akuntansi. NASBA has received strong opposition from many academics. NASBA telah menerima oposisi yang kuat dari banyak akademisi. In the authors' view, practicing accountants should control the agenda on qualifications to become a CPA and should become active proponents of ethics education both in the initial education of those entering the profession and in continuing professional education. Dalam penulis melihat, akuntan harus berlatih mengendalikan agenda pada kualifikasi untuk menjadi BPA dan harus menjadi pendukung aktif pendidikan etika baik dalam pendidikan awal mereka memasuki profesi dan melanjutkan pendidikan profesional. The views of the educational institutions and accounting faculty responsible for preparing students for entry into the accounting profession are not always the same as those of practicing professionals. Pandangan dari lembaga pendidikan dan fakultas akuntansi bertanggung jawab untuk mempersiapkan siswa untuk masuk ke dalam profesi akuntansi tidak selalu sama dengan profesional berlatih.
Institutions of Higher Education Lembaga Pendidikan Tinggi
The ubiquity of ethics in the mission statements of both universities and business schools requires greater scrutiny. Kehadiran etika dalam laporan misi kedua universitas dan sekolah bisnis membutuhkan pengawasan yang lebih besar. Many college mission statements contain claims such as “Our graduates are ethical leaders in the business and community” and “We produce ethical decision makers.” Yet only a handful of institutions require an ethics course as part of a student's liberal arts education, and few require a business ethics course. misi perguruan tinggi laporan Banyak mengandung klaim seperti "Lulusan kami adalah pemimpin etika dalam bisnis dan masyarakat", dan Kami memproduksi etis. pengambil keputusan "Namun" hanya segelintir institusi membutuhkan kursus etika sebagai bagian dari seni liberal pendidikan itu mahasiswa, dan beberapa membutuhkan kursus etika bisnis. If ethics is a meaningful component of a school's mission statement, then it should be supported by the requirement of ethics courses in the curriculum Jika etika adalah komponen bermakna dari pernyataan misi sekolah, maka harus didukung oleh kebutuhan kursus etika dalam kurikulum
Accounting Academics Akuntansi Akademisi
The most vocal opponents of the call for increased ethics education are committed proponents of the neoclassical economics paradigm, who seem to perceive ethics education as a threat to their conception of accounting. Vokal lawan sebagian besar panggilan untuk pendidikan etika meningkat berkomitmen pendukung dari paradigma ekonomi neoklasik, yang tampaknya menganggap pendidikan etika sebagai ancaman bagi konsepsi mereka tentang akuntansi. Many members of this group appear to be deeply offended by what they believe was a failure by NASBA to obtain their approval on the inclusion of ethics courses in the accounting curriculum; they are lobbying for a committee to study the matter before NASBA goes forward with an ethics requirement. Banyak anggota kelompok ini tampaknya sangat tersinggung dengan apa yang mereka percaya adalah kegagalan NASBA untuk mendapatkan persetujuan mereka pada inklusi kursus etika dalam kurikulum akuntansi, mereka melobi untuk sebuah komite untuk mempelajari masalah ini sebelum NASBA terus maju dengan etika kebutuhan.
The authors' interpretation of this request for a committee is twofold. penulis Interpretasi atas permohonan panitia ada dua. First, one must ask where these critics have been lately, because ethics is not a new or even recent concern to the profession. Pertama, kita harus bertanya di mana para kritikus telah akhir-akhir ini, karena etika bukan atau bahkan baru-baru kekhawatiran baru untuk profesi. Second, burying the issue of ethics education by forming a committee to ensure nothing will result is a political strategy. Kedua, mengubur masalah pendidikan etika dengan membentuk sebuah komite untuk memastikan tidak akan ada hasilnya adalah strategi politik.
Opponents of ethics courses in accounting have framed the debate in a manner that places an undue burden on the proponents of such ethics courses. Penentang kursus etika dalam akuntansi telah membingkai perdebatan dengan cara yang menempatkan beban yang tidak semestinya pada pendukung kursus etika tersebut. The opponents demand proof that ethics courses result in a significant increase in the ethics of accountants or that ethics courses significantly improve the education of accountants. Permintaan bukti lawan bahwa etika kursus menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam etika akuntan atau bahwa etika kursus secara signifikan meningkatkan pendidikan akuntan. The issue should be recast to ask: “What courses are more important in a curriculum educating accountants than an accounting ethics course?” The burden of proof has been and continues to be misplaced; a fairer assessment is needed. Masalah ini harus menyusun kembali bertanya: "Apa program yang lebih penting dalam kurikulum pendidikan akuntan dari sebuah etika kursus akuntansi?" Beban pembuktian telah dan terus menjadi salah, sebuah penilaian yang lebih adil diperlukan. NASBA's proposal of three ethics courses would represent nine credits in a 150-hour curriculum, or just 6%. Teman-proposal NASBA dari tiga program etika akan mewakili sembilan kredit dalam kurikulum 150 jam, atau hanya 6%. Surely the most severe threat to the accounting profession deserves more attention. Tentunya ancaman paling parah pada profesi akuntansi layak untuk mendapatkan perhatian lebih.
Some members of the accounting academic community argue that research is needed to demonstrate the effectiveness and need for ethics courses in accounting. Beberapa anggota komunitas akademik akuntansi berpendapat penelitian yang diperlukan untuk menunjukkan efektivitas dan kebutuhan untuk program etika dalam akuntansi. Again, while this is probably an honest concern for some academics, others will never be sufficiently convinced by the evidence. Sekali lagi, saat ini mungkin menjadi perhatian jujur untuk beberapa akademisi, yang lain tidak akan pernah cukup yakin dengan bukti. Unfortunately, many view this as a tactic to permanently delay the implementation of ethics courses for accountants. Sayangnya, banyak melihat ini sebagai taktik untuk secara permanen menunda pelaksanaan kursus etika untuk akuntan. If these accounting academics were interested in the topic, they would be publishing a significant quantity of articles on ethics, which would be spawning additional research. Jika akademisi akuntansi tertarik pada topik ini, mereka akan menerbitkan jumlah signifikan artikel tentang etika, yang akan pemijahan riset tambahan. Yet, in the premier journal of accounting academics, The Accounting Review , over the period 1980–2004, less than 2% of the published articles were on the subject of ethics. Namun, dalam jurnal utama akademisi akuntansi, Akuntansi Review, selama periode 1980-2004, kurang dari 2% dari artikel yang diterbitkan adalah tentang masalah etika. Such a low figure demonstrates the lack of interest in ethics by the accounting academic community and supports the notion that the academic community significantly distances itself from the concerns and realities confronted by practicing accounting professionals. Seperti sosok yang rendah menunjukkan kurangnya minat dalam etika oleh komunitas akademis akuntansi dan mendukung gagasan bahwa masyarakat akademik secara signifikan jarak diri dari keprihatinan dan kenyataan dihadapkan oleh praktisi profesional akuntansi.
Training Ethics Researchers/Teachers Pelatihan Etika Peneliti / Guru
The authors propose that an initial course in ethics, rooted in philosophy and ethical reasoning, should be a required course prior to taking a discipline-specific ethics course in either business or accounting. Penulis mengusulkan bahwa kursus awal dalam etika, berakar dalam filsafat dan pertimbangan etis, seharusnya menjadi program yang dibutuhkan sebelum mengambil kursus etika tertentu-disiplin baik dalam bisnis atau akuntansi. A discipline-specific ethics course in accounting is essential to the education of students preparing for the profession, and should be taught by tenure-track accounting faculty. Sebuah etika yang spesifik saja-disiplin dalam akuntansi adalah penting bagi pendidikan siswa mempersiapkan profesi, dan harus diajarkan oleh track akuntansi fakultas-kepemilikan. The authors believe that accounting faculty are the most appropriate teachers of accounting ethics. Para penulis percaya bahwa fakultas akuntansi yang sesuai kebanyakan guru etika akuntansi. Within such a course, accounting students should be exposed to real-world dilemmas that capture the complexities and technicalities they will confront in the future. Dalam kursus tersebut, mahasiswa akuntansi boleh terkena dilema dunia nyata yang menangkap kompleksitas dan teknis mereka akan menghadapi di masa depan. Although liberal arts professors are well versed in ethics, very few have a technical background in accounting or knowledge of the business world, which are essential components of an accounting ethics course. Meskipun seni liberal profesor berpengalaman dalam etika, sangat sedikit memiliki latar belakang teknis dalam akuntansi atau pengetahuan tentang dunia bisnis, yang merupakan komponen penting dari sebuah etika kursus akuntansi.
There is currently a shortage of accounting ethics teachers and researchers; for example, Bernardi (“A Commentary on Suggestions for Providing Legitimacy to Ethics Research in Accounting Education,” Issues in Accounting Education , 2004) points out that only 168 of 6,200 accounting faculty indicate that ethics is an area of research interest to them. Saat ini ada kekurangan guru akuntansi dan etika peneliti, misalnya, Bernardi ("A Commentary on Saran untuk Memberikan Legitimasi untuk Etika Penelitian di Pendidikan Akuntansi," Isu dalam Pendidikan Akuntansi, 2004) menunjukkan bahwa hanya 168 dari 6.200 dosen akuntansi menunjukkan bahwa etika merupakan bidang perhatian penelitian kepada mereka. Additionally, while approximately one-third of the journals in the marketing and management areas of business education indicate an interest in professional responsibility and ethics, only four of the 131 (3.1%) accounting-related journals indicate an interest in these areas. Selain itu, sementara sekitar sepertiga dari jurnal di bidang pemasaran dan manajemen pendidikan bisnis menunjukkan minat pada tanggung jawab profesional dan etika, hanya empat dari 131 (3.1%)-terkait jurnal akuntansi menunjukkan minat di bidang ini.
The quantity and quality of accounting ethics teachers and researchers would increase over time if academics included ethics articles in their publications. Kuantitas dan kualitas guru akuntansi dan etika peneliti akan meningkat dari waktu ke waktu jika akademisi termasuk artikel etika dalam publikasi mereka. Professionals can effect change by contributing or redirecting funds to doctoral-granting institutions that are actively engaged in producing ethics research, and graduating doctoral students that produce ethics research. These institutions are identified in “The Place of Ethics Scholarship in the US Accounting Academy: Accounting Doctorates' Research Productivity in Ethics Journals,” by Richard A. Bernardi, David F. Bean, and Paul F. Williams, Research on Professional Responsibility and Ethics in Accounting , 2005. Profesional dapat efek perubahan dengan ikut atau mengalihkan dana untuk doktor-pemberian institusi yang secara aktif terlibat dalam menghasilkan penelitian etika, dan lulus mahasiswa doktor yang menghasilkan penelitian etika:. Lembaga ini diidentifikasi dalam "Tempat Etika Beasiswa di Amerika Serikat Akuntansi Akademi Akuntansi Produktivitas penelitian Doctorates 'dalam Jurnal Etika, "oleh Richard A. Bernardi, David F. Bean, dan Williams F. Paul, Penelitian tentang Tanggung Jawab dan Etika Profesional di bidang Akuntansi, 2005.
Etika Akuntansi Program: Sebuah Kebutuhan Profesional
By David F. Bean and Richard A. Bernardi Oleh David F. Bean dan Richard A. Bernardi
DECEMBER 2005 - Fraudulent activities at Enron, WorldCom, HealthSouth, and other companies have had devastating effects on the financial markets and investors. Desember 2005 - kegiatan Penipuan di Enron, WorldCom, HealthSouth, dan perusahaan lain memiliki pengaruh yang sangat buruk di pasar keuangan dan investor. Many senior citizens anticipating retirement have found their assets and dreams decimated. Many ask, “Where were the auditors and accountants who were supposedly protecting our interests?” When upper management “plays with the numbers,” the public often assumes that the accountants and auditors act as willing and active participants in the process. Banyak warga senior mengantisipasi pensiun telah menemukan aset mereka dan impian hancur. Banyak bertanya, "Di mana auditor dan akuntan yang diduga melindungi kepentingan kita?" Ketika manajemen atas "bermain dengan angka," masyarakat sering menganggap bahwa para akuntan dan auditor bertindak sebagai peserta bersedia dan aktif dalam proses. Whether this is a fair assessment or not, the lack of ethics perceived by the public is a severe threat to the accounting profession. Apakah ini adalah penilaian yang adil atau tidak, kurangnya etika dirasakan oleh masyarakat merupakan ancaman parah pada profesi akuntansi.
Retaining or improving its previous level of trust and respect requires the profession to take proactive measures to restore its credibility. Mempertahankan atau meningkatkan tingkat sebelumnya kepercayaan dan menghormati profesi mengharuskan untuk mengambil langkah-langkah proaktif untuk mengembalikan kredibilitasnya. The National Association of State Boards of Accountancy (NASBA) is reviewing the comments received on its exposure draft for Rules 5-1, “Education Requirements—Definitions,” and 5-2, “Education Requirements—Determining Compliance of the Applicant's Education.” A major issue in the exposure draft is the requirement for ethics courses in accounting education. Asosiasi Nasional Dewan Akuntansi Negara (NASBA) sedang mengkaji komentar yang diterima tentang draf eksposur untuk Aturan 5-1, "Pendidikan Persyaratan-Definisi," dan 5-2, "Pendidikan Persyaratan-Menentukan Kepatuhan Pemohon Pendidikan." Masalah utama dalam draf eksposur adalah persyaratan untuk program studi etika dalam pendidikan akuntansi. NASBA has received strong opposition from many academics. NASBA telah menerima oposisi yang kuat dari banyak akademisi. In the authors' view, practicing accountants should control the agenda on qualifications to become a CPA and should become active proponents of ethics education both in the initial education of those entering the profession and in continuing professional education. Dalam penulis melihat, akuntan harus berlatih mengendalikan agenda pada kualifikasi untuk menjadi BPA dan harus menjadi pendukung aktif pendidikan etika baik dalam pendidikan awal mereka memasuki profesi dan melanjutkan pendidikan profesional. The views of the educational institutions and accounting faculty responsible for preparing students for entry into the accounting profession are not always the same as those of practicing professionals. Pandangan dari lembaga pendidikan dan fakultas akuntansi bertanggung jawab untuk mempersiapkan siswa untuk masuk ke dalam profesi akuntansi tidak selalu sama dengan profesional berlatih.
Institutions of Higher Education Lembaga Pendidikan Tinggi
The ubiquity of ethics in the mission statements of both universities and business schools requires greater scrutiny. Kehadiran etika dalam laporan misi kedua universitas dan sekolah bisnis membutuhkan pengawasan yang lebih besar. Many college mission statements contain claims such as “Our graduates are ethical leaders in the business and community” and “We produce ethical decision makers.” Yet only a handful of institutions require an ethics course as part of a student's liberal arts education, and few require a business ethics course. misi perguruan tinggi laporan Banyak mengandung klaim seperti "Lulusan kami adalah pemimpin etika dalam bisnis dan masyarakat", dan Kami memproduksi etis. pengambil keputusan "Namun" hanya segelintir institusi membutuhkan kursus etika sebagai bagian dari seni liberal pendidikan itu mahasiswa, dan beberapa membutuhkan kursus etika bisnis. If ethics is a meaningful component of a school's mission statement, then it should be supported by the requirement of ethics courses in the curriculum Jika etika adalah komponen bermakna dari pernyataan misi sekolah, maka harus didukung oleh kebutuhan kursus etika dalam kurikulum
Accounting Academics Akuntansi Akademisi
The most vocal opponents of the call for increased ethics education are committed proponents of the neoclassical economics paradigm, who seem to perceive ethics education as a threat to their conception of accounting. Vokal lawan sebagian besar panggilan untuk pendidikan etika meningkat berkomitmen pendukung dari paradigma ekonomi neoklasik, yang tampaknya menganggap pendidikan etika sebagai ancaman bagi konsepsi mereka tentang akuntansi. Many members of this group appear to be deeply offended by what they believe was a failure by NASBA to obtain their approval on the inclusion of ethics courses in the accounting curriculum; they are lobbying for a committee to study the matter before NASBA goes forward with an ethics requirement. Banyak anggota kelompok ini tampaknya sangat tersinggung dengan apa yang mereka percaya adalah kegagalan NASBA untuk mendapatkan persetujuan mereka pada inklusi kursus etika dalam kurikulum akuntansi, mereka melobi untuk sebuah komite untuk mempelajari masalah ini sebelum NASBA terus maju dengan etika kebutuhan.
The authors' interpretation of this request for a committee is twofold. penulis Interpretasi atas permohonan panitia ada dua. First, one must ask where these critics have been lately, because ethics is not a new or even recent concern to the profession. Pertama, kita harus bertanya di mana para kritikus telah akhir-akhir ini, karena etika bukan atau bahkan baru-baru kekhawatiran baru untuk profesi. Second, burying the issue of ethics education by forming a committee to ensure nothing will result is a political strategy. Kedua, mengubur masalah pendidikan etika dengan membentuk sebuah komite untuk memastikan tidak akan ada hasilnya adalah strategi politik.
Opponents of ethics courses in accounting have framed the debate in a manner that places an undue burden on the proponents of such ethics courses. Penentang kursus etika dalam akuntansi telah membingkai perdebatan dengan cara yang menempatkan beban yang tidak semestinya pada pendukung kursus etika tersebut. The opponents demand proof that ethics courses result in a significant increase in the ethics of accountants or that ethics courses significantly improve the education of accountants. Permintaan bukti lawan bahwa etika kursus menghasilkan peningkatan yang signifikan dalam etika akuntan atau bahwa etika kursus secara signifikan meningkatkan pendidikan akuntan. The issue should be recast to ask: “What courses are more important in a curriculum educating accountants than an accounting ethics course?” The burden of proof has been and continues to be misplaced; a fairer assessment is needed. Masalah ini harus menyusun kembali bertanya: "Apa program yang lebih penting dalam kurikulum pendidikan akuntan dari sebuah etika kursus akuntansi?" Beban pembuktian telah dan terus menjadi salah, sebuah penilaian yang lebih adil diperlukan. NASBA's proposal of three ethics courses would represent nine credits in a 150-hour curriculum, or just 6%. Teman-proposal NASBA dari tiga program etika akan mewakili sembilan kredit dalam kurikulum 150 jam, atau hanya 6%. Surely the most severe threat to the accounting profession deserves more attention. Tentunya ancaman paling parah pada profesi akuntansi layak untuk mendapatkan perhatian lebih.
Some members of the accounting academic community argue that research is needed to demonstrate the effectiveness and need for ethics courses in accounting. Beberapa anggota komunitas akademik akuntansi berpendapat penelitian yang diperlukan untuk menunjukkan efektivitas dan kebutuhan untuk program etika dalam akuntansi. Again, while this is probably an honest concern for some academics, others will never be sufficiently convinced by the evidence. Sekali lagi, saat ini mungkin menjadi perhatian jujur untuk beberapa akademisi, yang lain tidak akan pernah cukup yakin dengan bukti. Unfortunately, many view this as a tactic to permanently delay the implementation of ethics courses for accountants. Sayangnya, banyak melihat ini sebagai taktik untuk secara permanen menunda pelaksanaan kursus etika untuk akuntan. If these accounting academics were interested in the topic, they would be publishing a significant quantity of articles on ethics, which would be spawning additional research. Jika akademisi akuntansi tertarik pada topik ini, mereka akan menerbitkan jumlah signifikan artikel tentang etika, yang akan pemijahan riset tambahan. Yet, in the premier journal of accounting academics, The Accounting Review , over the period 1980–2004, less than 2% of the published articles were on the subject of ethics. Namun, dalam jurnal utama akademisi akuntansi, Akuntansi Review, selama periode 1980-2004, kurang dari 2% dari artikel yang diterbitkan adalah tentang masalah etika. Such a low figure demonstrates the lack of interest in ethics by the accounting academic community and supports the notion that the academic community significantly distances itself from the concerns and realities confronted by practicing accounting professionals. Seperti sosok yang rendah menunjukkan kurangnya minat dalam etika oleh komunitas akademis akuntansi dan mendukung gagasan bahwa masyarakat akademik secara signifikan jarak diri dari keprihatinan dan kenyataan dihadapkan oleh praktisi profesional akuntansi.
Training Ethics Researchers/Teachers Pelatihan Etika Peneliti / Guru
The authors propose that an initial course in ethics, rooted in philosophy and ethical reasoning, should be a required course prior to taking a discipline-specific ethics course in either business or accounting. Penulis mengusulkan bahwa kursus awal dalam etika, berakar dalam filsafat dan pertimbangan etis, seharusnya menjadi program yang dibutuhkan sebelum mengambil kursus etika tertentu-disiplin baik dalam bisnis atau akuntansi. A discipline-specific ethics course in accounting is essential to the education of students preparing for the profession, and should be taught by tenure-track accounting faculty. Sebuah etika yang spesifik saja-disiplin dalam akuntansi adalah penting bagi pendidikan siswa mempersiapkan profesi, dan harus diajarkan oleh track akuntansi fakultas-kepemilikan. The authors believe that accounting faculty are the most appropriate teachers of accounting ethics. Para penulis percaya bahwa fakultas akuntansi yang sesuai kebanyakan guru etika akuntansi. Within such a course, accounting students should be exposed to real-world dilemmas that capture the complexities and technicalities they will confront in the future. Dalam kursus tersebut, mahasiswa akuntansi boleh terkena dilema dunia nyata yang menangkap kompleksitas dan teknis mereka akan menghadapi di masa depan. Although liberal arts professors are well versed in ethics, very few have a technical background in accounting or knowledge of the business world, which are essential components of an accounting ethics course. Meskipun seni liberal profesor berpengalaman dalam etika, sangat sedikit memiliki latar belakang teknis dalam akuntansi atau pengetahuan tentang dunia bisnis, yang merupakan komponen penting dari sebuah etika kursus akuntansi.
There is currently a shortage of accounting ethics teachers and researchers; for example, Bernardi (“A Commentary on Suggestions for Providing Legitimacy to Ethics Research in Accounting Education,” Issues in Accounting Education , 2004) points out that only 168 of 6,200 accounting faculty indicate that ethics is an area of research interest to them. Saat ini ada kekurangan guru akuntansi dan etika peneliti, misalnya, Bernardi ("A Commentary on Saran untuk Memberikan Legitimasi untuk Etika Penelitian di Pendidikan Akuntansi," Isu dalam Pendidikan Akuntansi, 2004) menunjukkan bahwa hanya 168 dari 6.200 dosen akuntansi menunjukkan bahwa etika merupakan bidang perhatian penelitian kepada mereka. Additionally, while approximately one-third of the journals in the marketing and management areas of business education indicate an interest in professional responsibility and ethics, only four of the 131 (3.1%) accounting-related journals indicate an interest in these areas. Selain itu, sementara sekitar sepertiga dari jurnal di bidang pemasaran dan manajemen pendidikan bisnis menunjukkan minat pada tanggung jawab profesional dan etika, hanya empat dari 131 (3.1%)-terkait jurnal akuntansi menunjukkan minat di bidang ini.
The quantity and quality of accounting ethics teachers and researchers would increase over time if academics included ethics articles in their publications. Kuantitas dan kualitas guru akuntansi dan etika peneliti akan meningkat dari waktu ke waktu jika akademisi termasuk artikel etika dalam publikasi mereka. Professionals can effect change by contributing or redirecting funds to doctoral-granting institutions that are actively engaged in producing ethics research, and graduating doctoral students that produce ethics research. These institutions are identified in “The Place of Ethics Scholarship in the US Accounting Academy: Accounting Doctorates' Research Productivity in Ethics Journals,” by Richard A. Bernardi, David F. Bean, and Paul F. Williams, Research on Professional Responsibility and Ethics in Accounting , 2005. Profesional dapat efek perubahan dengan ikut atau mengalihkan dana untuk doktor-pemberian institusi yang secara aktif terlibat dalam menghasilkan penelitian etika, dan lulus mahasiswa doktor yang menghasilkan penelitian etika:. Lembaga ini diidentifikasi dalam "Tempat Etika Beasiswa di Amerika Serikat Akuntansi Akademi Akuntansi Produktivitas penelitian Doctorates 'dalam Jurnal Etika, "oleh Richard A. Bernardi, David F. Bean, dan Williams F. Paul, Penelitian tentang Tanggung Jawab dan Etika Profesional di bidang Akuntansi, 2005.
Kamis, 30 September 2010
PENGERTIAN ETIKA PROFESI AKUNTANSI
Sebelum membahas pengertian ETIKA PROFESI AKUNTANSI , maka kita harus mengetahui terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan Etika.
Pengertian ETIKA
Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupa¬kan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghin¬dari hal-hal tindakan yang buruk.Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.
Pengertian menurut para ilmuan:
Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Pengertian ETIKA PROFESI
Menurut (Murtanto dan Marini 2003),Etika profesi merupakan karakteristik suatu profesi yang membedakan suatu profesi dengan profesi lain, yang berfungsi untuk mengatur tingkah laku para anggotanya
Menurut (Agoes 2004),Setiap profesi yang memberikan pelayanan jasa pada masyarakat harus memiliki kode etik, yang merupakan seperangkat prinsip–prinsip moral yang mengatur tentang perilaku profesional.
Tanpa etika, profesi akuntan tidak akan ada karena fungsi akuntan adalah sebagai penyedia informasi untuk proses pembuatan keputusan bisnis oleh para pelaku bisnis. Etika profesi yang dimaksud adalah Kode Etik Akuntan Indonesia, yaitu norma perilaku yang mengatur hubungan antara akuntan publik dengan kliennya, antara akuntan publik dengan rekan sejawatnya dan antara profesi dengan masyarakat. Etika profesi terdiri dari lima dimensi yaitu kepribadian, kecakapan profesional, tangung jawab, pelaksanaan kode etik, penafsiran dan penyempurnaan kode etik.
Diambil dari : arleen@stietrisakti.ac.id, siou_chiang@yahoo.com
Profesi Akuntan di Indonesia terbagi menjadi empat, yaitu :
1. Akuntan Publik
Akuntan Publik adalah akuntan yang telah memperoleh izin dari menteri keuangan untuk memberikan / menjual jasanya kepada masyarakat umum, terutama dalam bidang pemeriksaan laporan keuangan kepada kliennya di Indonesia atas dasar pembayaran tertentu. Mereka ini bekerja bebas dan umumnya mendirikan suatu kantor akuntan dalam waktu paling lama 6 bulan sejak izin Akuntan Publik diterbitkan.
2. Akuntan Pemerintah
Akuntan pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada lembaga-lembaga pemerintah, misalnya di kantor Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pengawas Keuangan (BPK) dan Instansi Pajak.
3. Akuntan Pendidik
Akuntan pendidik adalah akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi, melakukan penelitian dan pengembangan akuntansi, mengajar, menyusun kurikulum pendidikan akuntansi di perguruan tinggi.
4. Akuntan Manajemen Perusahaan
Akuntan manajemen disebut juga sebagai akuntan intern adalah akuntan yang bekerja dalam suatu perusahaan atau organisasi dan berpartisipasi dalam mengambil keputusan mengenai investasi jangka panjang. Tugas mereka adalah menyusun sistem akuntansi, menyusun laporan keuangan kepada pihak-pihak eksternal, menyusun laporan keuangan kepada pemimpin perusahaan, menyusun anggaran, penanganan masalah perpajakan dan pemeriksaan intern.
Diambil dari : www.wikipedia.com, www.e-dukasi.net.com
Pengertian ETIKA
Pengertian Etika (Etimologi), berasal dari bahasa Yunani adalah “Ethos”, yang berarti watak kesusilaan atau adat kebiasaan (custom). Etika biasanya berkaitan erat dengan perkataan moral yang merupa¬kan istilah dari bahasa Latin, yaitu “Mos” dan dalam bentuk jamaknya “Mores”, yang berarti juga adat kebiasaan atau cara hidup seseorang dengan melakukan perbuatan yang baik (kesusilaan), dan menghin¬dari hal-hal tindakan yang buruk.Etika dan moral lebih kurang sama pengertiannya, tetapi dalam kegiatan sehari-hari terdapat perbedaan, yaitu moral atau moralitas untuk penilaian perbuatan yang dilakukan, sedangkan etika adalah untuk pengkajian sistem nilai-nilai yang berlaku.
Pengertian menurut para ilmuan:
Drs. O.P. SIMORANGKIR : etika atau etik sebagai pandangan manusia dalam berprilaku menurut ukuran dan nilai yang baik.
Drs. Sidi Gajalba dalam sistematika filsafat : etika adalah teori tentang tingkah laku perbuatan manusia dipandang dari segi baik dan buruk, sejauh yang dapat ditentukan oleh akal.
Drs. H. Burhanudin Salam : etika adalah cabang filsafat yang berbicara mengenai nilai dan norma moral yang menentukan prilaku manusia dalam hidupnya.
Pengertian ETIKA PROFESI
Menurut (Murtanto dan Marini 2003),Etika profesi merupakan karakteristik suatu profesi yang membedakan suatu profesi dengan profesi lain, yang berfungsi untuk mengatur tingkah laku para anggotanya
Menurut (Agoes 2004),Setiap profesi yang memberikan pelayanan jasa pada masyarakat harus memiliki kode etik, yang merupakan seperangkat prinsip–prinsip moral yang mengatur tentang perilaku profesional.
Tanpa etika, profesi akuntan tidak akan ada karena fungsi akuntan adalah sebagai penyedia informasi untuk proses pembuatan keputusan bisnis oleh para pelaku bisnis. Etika profesi yang dimaksud adalah Kode Etik Akuntan Indonesia, yaitu norma perilaku yang mengatur hubungan antara akuntan publik dengan kliennya, antara akuntan publik dengan rekan sejawatnya dan antara profesi dengan masyarakat. Etika profesi terdiri dari lima dimensi yaitu kepribadian, kecakapan profesional, tangung jawab, pelaksanaan kode etik, penafsiran dan penyempurnaan kode etik.
Diambil dari : arleen@stietrisakti.ac.id, siou_chiang@yahoo.com
Profesi Akuntan di Indonesia terbagi menjadi empat, yaitu :
1. Akuntan Publik
Akuntan Publik adalah akuntan yang telah memperoleh izin dari menteri keuangan untuk memberikan / menjual jasanya kepada masyarakat umum, terutama dalam bidang pemeriksaan laporan keuangan kepada kliennya di Indonesia atas dasar pembayaran tertentu. Mereka ini bekerja bebas dan umumnya mendirikan suatu kantor akuntan dalam waktu paling lama 6 bulan sejak izin Akuntan Publik diterbitkan.
2. Akuntan Pemerintah
Akuntan pemerintah adalah akuntan yang bekerja pada lembaga-lembaga pemerintah, misalnya di kantor Badan Pengawas Keuangan dan Pembangunan (BPKP), Badan Pengawas Keuangan (BPK) dan Instansi Pajak.
3. Akuntan Pendidik
Akuntan pendidik adalah akuntan yang bertugas dalam pendidikan akuntansi, melakukan penelitian dan pengembangan akuntansi, mengajar, menyusun kurikulum pendidikan akuntansi di perguruan tinggi.
4. Akuntan Manajemen Perusahaan
Akuntan manajemen disebut juga sebagai akuntan intern adalah akuntan yang bekerja dalam suatu perusahaan atau organisasi dan berpartisipasi dalam mengambil keputusan mengenai investasi jangka panjang. Tugas mereka adalah menyusun sistem akuntansi, menyusun laporan keuangan kepada pihak-pihak eksternal, menyusun laporan keuangan kepada pemimpin perusahaan, menyusun anggaran, penanganan masalah perpajakan dan pemeriksaan intern.
Diambil dari : www.wikipedia.com, www.e-dukasi.net.com
Jumat, 04 Juni 2010
ULASAN
ULASAN
Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) adalah seperangkat standar yang mempengaruhi cara perusahaan membuat laporan keuangan. Standar-standar ini digunakan di beberapa tempat di seluruh dunia maupun oleh perusahaan-perusahaan AS dengan anak perusahaan asing. Beberapa negara sudah melakukan pelaporan ganda dan berharap untuk mengubah secara eksklusif untuk IFRS.
Acumatica Bantuan
Acumatica dirancang dengan semua fitur yang diperlukan untuk mendukung transisi dari US GAAP ke IFRS. fitur canggih Acumatica keuangan mencakup kemampuan untuk mempertahankan beberapa buku besar, melakukan terjemahan, dan membuat entri jurnal penyesuaian.
Dual-Reporting. Acumatica mendukung kemampuan untuk mempertahankan beberapa pelaporan buku besar. transaksi harian dapat dimasukkan ke dalam buku besar utama sesuai dengan US GAAP sementara buku laporan yang terpisah bisa diseting untuk IFRS.
Translations. Acumatica fitur untuk mengimpor semua transaksi dari buku besar utama
Alokasi. aturan alokasi Acumatica secara otomatis dapat mendistribusikan nilai account lebih dari beberapa account dan sub-account berdasarkan persentase, jumlah, data statistik, atau sebanding dengan jumlah di account lain.
Fleksibel Pelaporan. Acumatica termasuk seorang penulis laporan berbasis web keuangan serta alat pelaporan desktop sehingga dapat dengan mudah memodifikasi laporan yang ada dan membuat yang baru. Laporan ini dapat diberi label dan disediakan melalui menu Acumatica.
Standar Pelaporan Keuangan Internasional (IFRS) adalah seperangkat standar yang mempengaruhi cara perusahaan membuat laporan keuangan. Standar-standar ini digunakan di beberapa tempat di seluruh dunia maupun oleh perusahaan-perusahaan AS dengan anak perusahaan asing. Beberapa negara sudah melakukan pelaporan ganda dan berharap untuk mengubah secara eksklusif untuk IFRS.
Acumatica Bantuan
Acumatica dirancang dengan semua fitur yang diperlukan untuk mendukung transisi dari US GAAP ke IFRS. fitur canggih Acumatica keuangan mencakup kemampuan untuk mempertahankan beberapa buku besar, melakukan terjemahan, dan membuat entri jurnal penyesuaian.
Dual-Reporting. Acumatica mendukung kemampuan untuk mempertahankan beberapa pelaporan buku besar. transaksi harian dapat dimasukkan ke dalam buku besar utama sesuai dengan US GAAP sementara buku laporan yang terpisah bisa diseting untuk IFRS.
Translations. Acumatica fitur untuk mengimpor semua transaksi dari buku besar utama
Alokasi. aturan alokasi Acumatica secara otomatis dapat mendistribusikan nilai account lebih dari beberapa account dan sub-account berdasarkan persentase, jumlah, data statistik, atau sebanding dengan jumlah di account lain.
Fleksibel Pelaporan. Acumatica termasuk seorang penulis laporan berbasis web keuangan serta alat pelaporan desktop sehingga dapat dengan mudah memodifikasi laporan yang ada dan membuat yang baru. Laporan ini dapat diberi label dan disediakan melalui menu Acumatica.
Selasa, 01 Juni 2010
TUGAS SOFT SKILL " PROPOSAL"
I. PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Di era globalisasi ini banyak sekali perusahaan-perusahaan maupun pertokoan-pertokoan yang didirikan, sehingga persaingan diantara perusahaan lebih ketat. Pada dasarnya setiap orang yang mendirikan Perusahaan itu mempunyai tujuan yang sama yaitu mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Agar tujuan tersebut tercapai mereka di tuntut untuk berusaha agar perusahaan berjalan dengan lancar. Perusahaan dagang adalah perusahaan yang kegiatan usahanya melakukan transaksi pembelian barang dagang kemudian untuk dijual kembali tanpa mengubah bentuknya. Perusahaan – perusahaan yang digolongkan sebagai perusahaan dagang antara lain adalah distributor, agen tunggal, pengecer, toko swalayan, toko serba ada, plasa, pusat-pusat perbelanjaan, atau pusat barang-barang grosir.Persediaan merupakan barang-barang yang tujuannya untuk dijual kembali melalui kegiatan perusahaan yang normal serta barang yang masih dalam proses produksi. Penjualan barang dagangan merupakan sumber pendapatan pokok bagi perusahaan dagang.
Persediaan sangat penting bagi perusahan dagang maupun manufaktur agar operasional berjalan dengan lancar. Manajeman atau pimpinan perusahaan berusaha untuk memberikan pelayanan yang baik bagi konsumennya dengan memenuhi kebutuhannya dengan cara menjaga ketersediaan barang dagangnya.Persediaan bagi perusahaan dagang terdiri dari satu kelompok persediaan yang biasa disebut barang dagang sedangkan pada perusahaan manufaktur persediaan yang dimiliki terdiri dari persediaan bahan baku, supplies pabrik, barang dalam proses dan barang jadi. Penggolongan jenis-jenis persediaan tersebut sangat dipengaruhi oleh sifat dan jenis perusahaan.Persediaan merupakan salah satu unsur didalam penentuan harga pokok penjualan bagi perusahaan dagang dan manufaktur. Nilai dari persediaan tersebut yang akan di laporkan dalam neraca.
Dalam melakukan penanganan persediaan, pengusaha harus mempertimbangkan dengan matang tentang penentuan besarnya persediaan. Barang-barang yang dibeli harus sesuai dengan keperluan dan diusahakan agar tidak terlalu berlebihan. Apabila terlalu banyak persediaan dan terlalu lama disimpan maka akan menimbulkan kerugian karena akan menyebabkan biaya penyimpanan yang tinggi.Begitu pentingnya persediaan bagi perusahaan, maka perusahaan haruslah merencanakan dan menerapkan suatu metode penilaian persediaan.Dalam metode penilaian persediaan, terdapat 4 (empat) metode yang paling lazim digunakan, yaitu metode identifikasi khusus, FIFO, LIFO dan rata-rata. Pada Undang-undang perpajakan Indonesia hanya memperbolehkan penilaian persediaan barang untuk penghitungan harga pokok dengan metode FIFO atau metode weighted average. Pada Exposure Draft Standar Akuntansi Keuangan (ED PSAK 14) manyatakan bahwa persediaan dinilai dengan FIFO dan average method saja. Pada perhitungan LIFO yang disajikan dalam laporan keuangan sering kali dinilai lebih rendah dari yang sebenarnya terjadi. Ada indikasi kecurangan yang dinilai oleh para analis pajak Hal ini menyebabkan LIFO semakin dinilai hanya mengejar keuntungan tax-saving. Oleh karena itu, para analis pajak, berpendapat bahwa LIFO sebaiknya dihapuskan.
Pada umumnya perusahaan menggunakan salah satu metode penilaian persediaan yang sesuai dengan kondisi dan bidang usahanya. Pengaruh metode penilaian persediaan terhadap laporan keuangan sangat besar, terutama pada laporan laba rugi dan laporan neraca. Pada laporan laba rugi, pengaruh metode penilaian persediaan terletak pada harga pokok penjualan, sedangkan pengaruh metode penilaian persediaan terhadap laporan neraca terletak pada nilai persediaan akhir.
Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat pentingnya melakukan perhitungan nilai persediaan sehingga penulis tertarik untuk memilih judul dalam menyusun Penulisan Ilmiah yaitu “Analisis Penilaian Persediaan Barang Dagangan dan Pengaruhnya terhadap Laba Kotor pada MINI MARKET“.
2. Rumusan Masalah
“ Terdapat perbedaan metode penilaian persediaan terhadap pencapaian laba perusahaan”.
3. Pembatasan Masalah
Dalam batasan masalah ini penulis hanya membahas penilaian persediaan barang dagang pada mini market yang beralamatkan di Jl. Akses UI, Cimanggis, Depok untuk menilai persediaan dengan jenis persediaan gula pasir. Data diambil dari transaksi yang terjadi selama bulan September – Desember 2009. Penulis menganalisi dengan menggunakan metode FIFO, LIFO dan rata-rata (Average) dengan sistem perpetual untuk mengetahui besarnya persediaan akhir dan laba kotor pada masing-masing metode.
4. Tujuan & Manfaat Penulisan
Tujuan Penulisan
Tujuan dari Penulisan Ilmiah ini adalah:
1. Untuk mengetahui metode penilaian yang diterapkan perusahaan
2. Mengevaluasi metode penilaian persediaan dan pengaruhnya terhadap laba kotor.
Manfaat Penulisan
1. Bagi Perusahaan
Dengan adanya penulisan ini maka diharapkan dapat memberikan masukan dan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan manajemen perusahaan terutama yang berkaitan dengan persediaan barang dagang.
2. Bagi Penulis
Hasil penulisan ini berguna bagi penulis untuk menambah wawasan pengetahuan tentang jenis-jenis persediaan,cara pencatatannya dan metode penilaian persediaan pada suatu perusahaan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Persediaan
Persediaan harus dikelola dengan sebaik-baiknya dengan memperhatikan berbagai hal yang akan mempengaruhi besarnya jumlah persediaan di gudang. Pada tingkat penjualan tinggi persediaan berkurang sehingga kualitas barang yang ada dalam perusahaan jumlahnya relatif sedikit.
Pada dasarnya persediaan itu memperlancar operasi perusahaan yang harus dilakukan terus menerus dengan tujuan untuk memproduksi barang yang selanjutnya disampaikan kepada konsumen. Persediaan barang yang baik dan tepat diperlukan untuk memperkirakan dan menetapkan jumlah barang, agar persediaan itu efektif dan efisien.
Biaya barang-barang ini harus dicatat, dikelompokkan, dan diikhtisarkan selama periode akuntansi. Pada akhir periode, biaya dialokasikan diantara aktivitas periode berjalan dan aktivitas masa mendatang, yaitu diantara barang-barang yang dijual dalam periode yang berjalan dan barang-barang yang berada dalam persediaan untuk dijual pada periode mendatang.
Menurut Miswanto dan Eko Widodo ( 1998;171)” persediaan adalah bahan yang digunakan untuk dipakai guna memudahkan produksi atau memuaskan permintaan dari pelanggan atau konsumen, yang meliputi bahan baku, barag dalam proses, dan barang jadi”.
Persediaan (Bambang Riyanto,2000;67) adalah sebagai elemem-elemem utama dari madal kerja yang merupakan aktiva yang selalu dalam keadaan berputar, dimana secara terus menerus mengalami perubahan.
Menurut (T.Hani Handoko,2003:333)“ Persediaan menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya, organisasi yang disimpan dalam antisipasi terhadap pemenuhan permintaan.”
Definisi persediaan menurut PSAK No 14 Tahun 2002 adalah Aktiva
yang tersedia untuk dijual kembali dalam kegiatan usaha normal, dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan dan dalam bentuk bahan atau pelengkap untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya persediaan adalah elemen utama dari modal kerja yang paling aktif dalam operasi perusahaan dimana secara terus menerus mengalami perubahan baik yang tersedia untuk dijual kembali dalam kegiatan usaha normal perusahaan, dalam proses produksi dan dalam bentuk bahan pelengkap untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
2. Klasifikasi Persediaan
Persediaan barang diklasifikasikan sesuai dengan jenis usaha perusahaan tersebut. Dalam perusahaan perdagangan persediaan barang merupakan aktiva dalam bentuk siap dijual kembali dan yang paling aktif dalam operasi usahanya.Sedangkan dalam perusahaan pabrikasi atau manufaktur, persediaan barang dapat dklasifikasikan sebagai berikut:
1) Persediaan Bahan Baku (raw materials)
Persediaan bahan baku yaitu persediaan barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi. Bahan baku dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari para supplier dan atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya.
2) Persediaan barang dalam proses (work in process)
Persediaan barang dalam proses dalah persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut untuk menjadi barang jadi.
3) Persediaan barang jadi (finished goods)
Persediaan barang jadi adalah persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan.
Terdapatnya klasifikasi persediaan yang berbeda antara perusahaan perdagangan dengan perusahaan manufaktur adalah karena fungsi dua perusahaan itu memeng berbeda. Fungsi perusahaan perdagangan adalah menjual barang yang diperolehnya dalam bentuk sudah jadi. Dengan kata lain, tidak ada proses pengolahan seandainya terjadi pengolahan maka pengolahan tersebut terbatas pada pembungkusan atau pengemasan agar lebih menarik selera konsumen. Sedangkan fungsi perusahaan manufaktur adalah mengolah bahan mentah menjadi produk jadi.
3. Fungsi Persediaan
Menurut Eddy Herjanto (1999:220). Persediaan dapat dikelompokkan menurut fungsinya kedalam 4 jenis,yaitu sebagai berikut:
1. ( Fluctuation )
Merupakan persediaan untuk menjaga terjadinya fluktuasi permintaan yang tidak diperkirakan sebelumnya,dan untuk mengatasi jika terjadi kesalahan atau penyimpanan dalam perkiraan penjualan,waktu produksi, atau pengiriman barang.
2. ( Anticipation stock )
Merupakan jenis persediaan untuk menghadapi permintaan yang dapat diramalkan. Persediaan ini bertujuan untuk menjaga kemungkinan sulitnya memperoleh bahan baku sehimgga tidak mengakibatkan berhentinya produksi
3. ( Lot-size inventory )
Merupakan persediaan yang diadakan dalam jumlah besar dari pada kebutuhan pada saat itu. Cara ini dilakukan untuk mendapatkan penghematan dari biaya pengangkutan per unit yang lebih rendah.
4. ( Pipeline inventory )
Merupakan persediaan yang sedang dalam proses pengiriman dari tempat asal ke tempat dimana barang itu akan digunakan.
Pada dasarnya persediaan akan mempermudah jalannya operasi perusahaan yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memproduksi barang dan menyampaikannya kepada konsumen.Beberapa fungsi persediaan dalam memenuhi kebutuhan perusahaan, sebagai berikut:
1) Menghilangkan resiko keterlambatan bahan baku atau barang yang dibutuhkan perusahaan.
2) Menghilangkan resiko jika materi yang dipesan tidak baik sehingga harus bikembalikan.
3) Menghilangkan resiko terhadap kenaikan harga barang
4) Untuk menyimpan bahan baku yang dihasilkan secara musiman sehingga perusahaan tidak akan kesulitan jika bahan itu tidak ada dipasaran.
5) Mendapatkan keuntungan dari pembelian berdasarkan potongan kuantitas (quantity discounts)
6) Memberikan pelayanan kapada pelanggan dengan tersedianya barang yang diperlukan
4. Sistem Pencatatan Persediaan
Sistem pencatatan persediaan yang lazim digunakan ada dua macam yaitu:
1) Sistem Fisik (Physical Inventory System)
Sistem persediaan fisik atau periodik adalah sistem dimana pokok penjualan dihitung secara periodik dengan mengendalikan semata-mata pada perhitungan fisik tanpa menyelenggarakan catatan hari ke hari atas unit yang terjual atau yang ada ditangan. Sistem fisik digunakan untuk menentukan jumlah kuantitas persediaan barang dan dilakukan pada akhir periode akuntansi.
Cara perhitungan harga pokok penjualan dilakukan seperti berikut ini:
Persediaan Awal xxx
Pembelian xxx
Barang tersedia untuk dijual xxx
Persediaan Akhir (xxx)
Harga pokok penjualan xxx
Ciri-ciri system fisik atau periodik adalah sebagai berikut:
a) Pemasukan dan pengeluaran persediaan tidak dicatat dan tidak diperhitungkan dalam suatu catatan tertentu.
b) Pembelian barang dicatat dengan mendebit rekening pembelian bukan persediaan barangn
c) Perhitungan persediaan akhir sekaligus digunakan untuk perhitungan harga pokok penjualan dengan menggunakan jurnal penyesuaian.
Sistem fisik biasanya digunakan pada perusahaan yang jenis persediaannya banyak tetapi nilai persediaan per unitnya kecil, misalnya toko bahan bangunan. Sistem ini cukup sederhana dan mudah diterapkan, tetapi kurang baik untuk pengawasan persediaan karena kekurangan persediaan yang hilang tidak dapat dideteksi dan menejemen tidak memiliki alat untuk mengetahui jumlah persediaan setiap saat.
2) Sistem Perpetual (Perpetual Inventory System)
Sistem persediaan perpetual adalah suatu system yang menyelenggarakan pencatatan terus-menerus yang menelusuri persediaan dan harga pokok penjualan atas dasar harian. Perkiraan persediaan didukung dalam kartu-kartu pembantu persediaan (kartu persediaan). Kartu persediaan digunakan untuk mencatat transaksi setiap jenis persediaan, memuat nama barang,tempat penyimpanan barang, kode barang dan kolom-kolom yang dipakai untuk mencatat transaksi adalah tanggal, pembelian (pemasukan), penjualan(pengeluaran),dan sisa atau saldo persediaan.
Sistem perpetual memudahkan dalam penyusunan neraca dan laporan perhitungan laba rugi karena penentuan persediaan akhir tidak perlu lagi menghitung fisiknya tetapi perhitungan fisiknya tetap dilakukan untuk tujuan pengawasan terhadap persediaan barang. Sistem perpetual biasanya digunakan pada perusahaan yang jenis persediaamya tidak banyak tetapi nilai persediaan per unitnya besar, misalnya dealer mobil dan toko emas
5. Metode Penilaian Persediaan
Metode yang dapat dipakai untuk menentukan besarnya nilai persediaan ada beberapa macam. Nilai persediaan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap penyusunan laporan keungan baik dalam neraca maupun laporan perhitungan laba rugi. Nilai persediaan yang tercantum dalam neraca menunjukkan nilai kekayaan yang berdasarkan prinsip hati-hati menghendaki nilai mana yang terendah. Sedangkan nilai persediaan untuk kepentingan perhitungan lada rugi dihadapkan kepada kepentingan penentuan laba yang diperoleh perusahaan. Metode penilaian persediaan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan adalah sebagai beriku:
1. Metode Harga Perolehan
a. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama ( First In First Out)
Metode first in first out (FIFO) adalah metode penilaiaan persediaan yang menganggap barang yang pertama kali masuk diasumsikan keluar pertama kali pula. Pada umumnya perusahaan menggunakan metode ini, sebab metode ini perhitungannya sangat sederhna baik system fisik maupun system perpetual akan menghasilkan penilaian persediaan yang sama.
Cara menghitung persediaan akhir adalah sebagai berikut:
Persediaan awal xxx
Pembelian xxx
Tersedia untuk dijual xxx
Penjualan (xxx)
Persediaan akhir xxx
Metode FIFO yang didasarkan atas system fisik, nilai persediaan akhir ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok perunit barang yang terakhir kali masuk, bila saldo fisik ternyata lebih besar dari jumlah unit terakhir masuk maka sisanya diambilkan dari harga poko per unit yang masuk sebelumnya. Sedangkan pada system perpetual pencatatan persediaan dilakukan secara terus-menerus dalam kartu persediaan. Pada system ini apabila ada transaksi penjualan maka akan dijurnal dua kali, pertama mencatat harga pokok pejualan dan yang kedua mencatat harga pokok barang yang dijual, seperti berikut ini:
Kas/ piutang dagang xxx
Penjualan xxx
HPP xxx
Persediaan barang xxx
b. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama ( Last In First Out)
Metode Last In First Out ( LIFO) adalah metode penilaiaan persediaan yang terakhir masuk diasumsikan akan keluar atau dijual pertama kali. Metode ini memiliki konsep yang cukup sederhana namun sulit dilaksanakan. Pengaruh penggunaan metode LIFO terhadap penentuan laba bersih usaha, jika harga cenderung naik maka laba perusahaan terlalu kecil atau sebaliknya.
Metode LIFO secara system fisik ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok perunit barang yang masuk pada awal periode bila saldo fisik ternyata lebih besar dari barang yang masuk pada awal periode maka diambilkan dari harga pokok perunit yang masuk berikutnya. Sedangkan dengan sistem perpetual, setiap kali ada transaksi baik pembelian maupun penjualan dicatat dalam kartu persediaan.
c. Metode Rata-rata (Average Method)
Metode harga pokok rata-rata adalah suatu metode penilaian persediaan yang didasari atas harga rata-rata dalam periode yang bersangkutan. Besar kecilnya nilai persediaan yang masih ada dan harga pokok barang yang dijual, dipengaruhi oleh metode yang dipakai dalam metode ini adalah:
1) Metode rata-rata sederhana:
Biaya per unit = Total harga per unit pembelian
Frekuensi pembelian
Nilai persediaan akhir = Persediaan akhir x biaya per unit
Harga pokok penjualan =Unit yang dikeluarkan x biaya perunit
2) Metode rata-rata tertimbang:
Biaya per unit = Jumlah harga perunit x banyaknya unit
Banyaknya unit
Nilai persediaan akhir = persediaan akhir xbiaya perunit
3) Metode rata-rata bergerak:
Metode ini dipakai digunakan dengan kartu persediaan dan harga pokok perunit persediaan selalu berubah setiap terjadi pembelian barang baru.
Harga pokok rata-rata = harga perolehan lama + harga perolehan baru
Unit barang lama + unit barang baru
III. METODELOGI PENELITIAN
1. Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada MINI MARKET KEPOLISIAN KORP BRIGADE MOBIL yang beralamatkan di Jl. Akses UI, Cimanggis, Depok.
2. Data Yang Digunakan
Dalam penelitian ilmiah ini, peneliti memerlukan banyak data yang digunakan sebagai sumber informasi. Data yang digunakan tersebut berupa data persediaan barang dagang berupa gula pasir.
3. Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan penelitian ilmiah ini, penulis menggunakan data:
a) Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari objek penelitian. Dalam hal ini peneliti melakukan observasi pada MINI MARKET untuk mendapatkan data yang akurat.
b) Data sekunder yaitu data atau informasi yang berasal dari luar perusahaan atau tidak langsung. Data ini didapat dari kepustakaan atau buku literatur yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
4. Alat Analisis Yang Digunalan
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode:
1. Metode FIFO ( First In First Out)
Metode first in first out (FIFO) adalah metode penilaiaan persediaan yang menganggap barang yang pertama kali masuk diasumsikan keluar pertama kali pula.
2. Metode LIFO (Last In Fist Out)
Metode Last In First Out ( LIFO) adalah metode penilaiaan persediaan yang terakhir masuk diasumsikan akan keluar atau dijual pertama kali.
3. Metode rata-rata sederhana ( Simple Average Method)
Metode harga pokok rata-rata adalah suatu metode penilaian persediaan yang didasari atas harga rata-rata dalam periode yang bersangkutan.
Harga rata-rata per unit = jumlah harga perunit
Jumlah transaksi pembelian
IV. DAFTAR PUSTAKA
Handoko, T.Hani, 2000,Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi Pertama, Cetakan Kesembilan, BPFE, Yogyakarta.
Riyanto, Bambang, 2000, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi keempat, BPFE, Yogyakarta.
Widodo, Eko dan Miswanto, 1998, Manajemen Keuangan 1, Seri Diktat KuliahUG, Jakarta.
1. Latar Belakang
Di era globalisasi ini banyak sekali perusahaan-perusahaan maupun pertokoan-pertokoan yang didirikan, sehingga persaingan diantara perusahaan lebih ketat. Pada dasarnya setiap orang yang mendirikan Perusahaan itu mempunyai tujuan yang sama yaitu mencari keuntungan yang sebesar-besarnya. Agar tujuan tersebut tercapai mereka di tuntut untuk berusaha agar perusahaan berjalan dengan lancar. Perusahaan dagang adalah perusahaan yang kegiatan usahanya melakukan transaksi pembelian barang dagang kemudian untuk dijual kembali tanpa mengubah bentuknya. Perusahaan – perusahaan yang digolongkan sebagai perusahaan dagang antara lain adalah distributor, agen tunggal, pengecer, toko swalayan, toko serba ada, plasa, pusat-pusat perbelanjaan, atau pusat barang-barang grosir.Persediaan merupakan barang-barang yang tujuannya untuk dijual kembali melalui kegiatan perusahaan yang normal serta barang yang masih dalam proses produksi. Penjualan barang dagangan merupakan sumber pendapatan pokok bagi perusahaan dagang.
Persediaan sangat penting bagi perusahan dagang maupun manufaktur agar operasional berjalan dengan lancar. Manajeman atau pimpinan perusahaan berusaha untuk memberikan pelayanan yang baik bagi konsumennya dengan memenuhi kebutuhannya dengan cara menjaga ketersediaan barang dagangnya.Persediaan bagi perusahaan dagang terdiri dari satu kelompok persediaan yang biasa disebut barang dagang sedangkan pada perusahaan manufaktur persediaan yang dimiliki terdiri dari persediaan bahan baku, supplies pabrik, barang dalam proses dan barang jadi. Penggolongan jenis-jenis persediaan tersebut sangat dipengaruhi oleh sifat dan jenis perusahaan.Persediaan merupakan salah satu unsur didalam penentuan harga pokok penjualan bagi perusahaan dagang dan manufaktur. Nilai dari persediaan tersebut yang akan di laporkan dalam neraca.
Dalam melakukan penanganan persediaan, pengusaha harus mempertimbangkan dengan matang tentang penentuan besarnya persediaan. Barang-barang yang dibeli harus sesuai dengan keperluan dan diusahakan agar tidak terlalu berlebihan. Apabila terlalu banyak persediaan dan terlalu lama disimpan maka akan menimbulkan kerugian karena akan menyebabkan biaya penyimpanan yang tinggi.Begitu pentingnya persediaan bagi perusahaan, maka perusahaan haruslah merencanakan dan menerapkan suatu metode penilaian persediaan.Dalam metode penilaian persediaan, terdapat 4 (empat) metode yang paling lazim digunakan, yaitu metode identifikasi khusus, FIFO, LIFO dan rata-rata. Pada Undang-undang perpajakan Indonesia hanya memperbolehkan penilaian persediaan barang untuk penghitungan harga pokok dengan metode FIFO atau metode weighted average. Pada Exposure Draft Standar Akuntansi Keuangan (ED PSAK 14) manyatakan bahwa persediaan dinilai dengan FIFO dan average method saja. Pada perhitungan LIFO yang disajikan dalam laporan keuangan sering kali dinilai lebih rendah dari yang sebenarnya terjadi. Ada indikasi kecurangan yang dinilai oleh para analis pajak Hal ini menyebabkan LIFO semakin dinilai hanya mengejar keuntungan tax-saving. Oleh karena itu, para analis pajak, berpendapat bahwa LIFO sebaiknya dihapuskan.
Pada umumnya perusahaan menggunakan salah satu metode penilaian persediaan yang sesuai dengan kondisi dan bidang usahanya. Pengaruh metode penilaian persediaan terhadap laporan keuangan sangat besar, terutama pada laporan laba rugi dan laporan neraca. Pada laporan laba rugi, pengaruh metode penilaian persediaan terletak pada harga pokok penjualan, sedangkan pengaruh metode penilaian persediaan terhadap laporan neraca terletak pada nilai persediaan akhir.
Berdasarkan uraian diatas dapat dilihat pentingnya melakukan perhitungan nilai persediaan sehingga penulis tertarik untuk memilih judul dalam menyusun Penulisan Ilmiah yaitu “Analisis Penilaian Persediaan Barang Dagangan dan Pengaruhnya terhadap Laba Kotor pada MINI MARKET“.
2. Rumusan Masalah
“ Terdapat perbedaan metode penilaian persediaan terhadap pencapaian laba perusahaan”.
3. Pembatasan Masalah
Dalam batasan masalah ini penulis hanya membahas penilaian persediaan barang dagang pada mini market yang beralamatkan di Jl. Akses UI, Cimanggis, Depok untuk menilai persediaan dengan jenis persediaan gula pasir. Data diambil dari transaksi yang terjadi selama bulan September – Desember 2009. Penulis menganalisi dengan menggunakan metode FIFO, LIFO dan rata-rata (Average) dengan sistem perpetual untuk mengetahui besarnya persediaan akhir dan laba kotor pada masing-masing metode.
4. Tujuan & Manfaat Penulisan
Tujuan Penulisan
Tujuan dari Penulisan Ilmiah ini adalah:
1. Untuk mengetahui metode penilaian yang diterapkan perusahaan
2. Mengevaluasi metode penilaian persediaan dan pengaruhnya terhadap laba kotor.
Manfaat Penulisan
1. Bagi Perusahaan
Dengan adanya penulisan ini maka diharapkan dapat memberikan masukan dan sebagai bahan pertimbangan dalam menentukan kebijakan manajemen perusahaan terutama yang berkaitan dengan persediaan barang dagang.
2. Bagi Penulis
Hasil penulisan ini berguna bagi penulis untuk menambah wawasan pengetahuan tentang jenis-jenis persediaan,cara pencatatannya dan metode penilaian persediaan pada suatu perusahaan.
II. TINJAUAN PUSTAKA
1. Pengertian Persediaan
Persediaan harus dikelola dengan sebaik-baiknya dengan memperhatikan berbagai hal yang akan mempengaruhi besarnya jumlah persediaan di gudang. Pada tingkat penjualan tinggi persediaan berkurang sehingga kualitas barang yang ada dalam perusahaan jumlahnya relatif sedikit.
Pada dasarnya persediaan itu memperlancar operasi perusahaan yang harus dilakukan terus menerus dengan tujuan untuk memproduksi barang yang selanjutnya disampaikan kepada konsumen. Persediaan barang yang baik dan tepat diperlukan untuk memperkirakan dan menetapkan jumlah barang, agar persediaan itu efektif dan efisien.
Biaya barang-barang ini harus dicatat, dikelompokkan, dan diikhtisarkan selama periode akuntansi. Pada akhir periode, biaya dialokasikan diantara aktivitas periode berjalan dan aktivitas masa mendatang, yaitu diantara barang-barang yang dijual dalam periode yang berjalan dan barang-barang yang berada dalam persediaan untuk dijual pada periode mendatang.
Menurut Miswanto dan Eko Widodo ( 1998;171)” persediaan adalah bahan yang digunakan untuk dipakai guna memudahkan produksi atau memuaskan permintaan dari pelanggan atau konsumen, yang meliputi bahan baku, barag dalam proses, dan barang jadi”.
Persediaan (Bambang Riyanto,2000;67) adalah sebagai elemem-elemem utama dari madal kerja yang merupakan aktiva yang selalu dalam keadaan berputar, dimana secara terus menerus mengalami perubahan.
Menurut (T.Hani Handoko,2003:333)“ Persediaan menunjukkan segala sesuatu atau sumber daya, organisasi yang disimpan dalam antisipasi terhadap pemenuhan permintaan.”
Definisi persediaan menurut PSAK No 14 Tahun 2002 adalah Aktiva
yang tersedia untuk dijual kembali dalam kegiatan usaha normal, dalam proses produksi dan atau dalam perjalanan dan dalam bentuk bahan atau pelengkap untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
Dari pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa pada dasarnya persediaan adalah elemen utama dari modal kerja yang paling aktif dalam operasi perusahaan dimana secara terus menerus mengalami perubahan baik yang tersedia untuk dijual kembali dalam kegiatan usaha normal perusahaan, dalam proses produksi dan dalam bentuk bahan pelengkap untuk digunakan dalam proses produksi atau pemberian jasa.
2. Klasifikasi Persediaan
Persediaan barang diklasifikasikan sesuai dengan jenis usaha perusahaan tersebut. Dalam perusahaan perdagangan persediaan barang merupakan aktiva dalam bentuk siap dijual kembali dan yang paling aktif dalam operasi usahanya.Sedangkan dalam perusahaan pabrikasi atau manufaktur, persediaan barang dapat dklasifikasikan sebagai berikut:
1) Persediaan Bahan Baku (raw materials)
Persediaan bahan baku yaitu persediaan barang-barang berwujud yang digunakan dalam proses produksi. Bahan baku dapat diperoleh dari sumber-sumber alam atau dibeli dari para supplier dan atau dibuat sendiri oleh perusahaan untuk digunakan dalam proses produksi selanjutnya.
2) Persediaan barang dalam proses (work in process)
Persediaan barang dalam proses dalah persediaan barang-barang yang merupakan keluaran dari tiap-tiap bagian dalam proses produksi atau yang telah diolah menjadi suatu bentuk, tetapi masih perlu diproses lebih lanjut untuk menjadi barang jadi.
3) Persediaan barang jadi (finished goods)
Persediaan barang jadi adalah persediaan barang-barang yang telah selesai diproses atau diolah dalam pabrik dan siap untuk dijual atau dikirim kepada pelanggan.
Terdapatnya klasifikasi persediaan yang berbeda antara perusahaan perdagangan dengan perusahaan manufaktur adalah karena fungsi dua perusahaan itu memeng berbeda. Fungsi perusahaan perdagangan adalah menjual barang yang diperolehnya dalam bentuk sudah jadi. Dengan kata lain, tidak ada proses pengolahan seandainya terjadi pengolahan maka pengolahan tersebut terbatas pada pembungkusan atau pengemasan agar lebih menarik selera konsumen. Sedangkan fungsi perusahaan manufaktur adalah mengolah bahan mentah menjadi produk jadi.
3. Fungsi Persediaan
Menurut Eddy Herjanto (1999:220). Persediaan dapat dikelompokkan menurut fungsinya kedalam 4 jenis,yaitu sebagai berikut:
1. ( Fluctuation )
Merupakan persediaan untuk menjaga terjadinya fluktuasi permintaan yang tidak diperkirakan sebelumnya,dan untuk mengatasi jika terjadi kesalahan atau penyimpanan dalam perkiraan penjualan,waktu produksi, atau pengiriman barang.
2. ( Anticipation stock )
Merupakan jenis persediaan untuk menghadapi permintaan yang dapat diramalkan. Persediaan ini bertujuan untuk menjaga kemungkinan sulitnya memperoleh bahan baku sehimgga tidak mengakibatkan berhentinya produksi
3. ( Lot-size inventory )
Merupakan persediaan yang diadakan dalam jumlah besar dari pada kebutuhan pada saat itu. Cara ini dilakukan untuk mendapatkan penghematan dari biaya pengangkutan per unit yang lebih rendah.
4. ( Pipeline inventory )
Merupakan persediaan yang sedang dalam proses pengiriman dari tempat asal ke tempat dimana barang itu akan digunakan.
Pada dasarnya persediaan akan mempermudah jalannya operasi perusahaan yang harus dilakukan secara berturut-turut untuk memproduksi barang dan menyampaikannya kepada konsumen.Beberapa fungsi persediaan dalam memenuhi kebutuhan perusahaan, sebagai berikut:
1) Menghilangkan resiko keterlambatan bahan baku atau barang yang dibutuhkan perusahaan.
2) Menghilangkan resiko jika materi yang dipesan tidak baik sehingga harus bikembalikan.
3) Menghilangkan resiko terhadap kenaikan harga barang
4) Untuk menyimpan bahan baku yang dihasilkan secara musiman sehingga perusahaan tidak akan kesulitan jika bahan itu tidak ada dipasaran.
5) Mendapatkan keuntungan dari pembelian berdasarkan potongan kuantitas (quantity discounts)
6) Memberikan pelayanan kapada pelanggan dengan tersedianya barang yang diperlukan
4. Sistem Pencatatan Persediaan
Sistem pencatatan persediaan yang lazim digunakan ada dua macam yaitu:
1) Sistem Fisik (Physical Inventory System)
Sistem persediaan fisik atau periodik adalah sistem dimana pokok penjualan dihitung secara periodik dengan mengendalikan semata-mata pada perhitungan fisik tanpa menyelenggarakan catatan hari ke hari atas unit yang terjual atau yang ada ditangan. Sistem fisik digunakan untuk menentukan jumlah kuantitas persediaan barang dan dilakukan pada akhir periode akuntansi.
Cara perhitungan harga pokok penjualan dilakukan seperti berikut ini:
Persediaan Awal xxx
Pembelian xxx
Barang tersedia untuk dijual xxx
Persediaan Akhir (xxx)
Harga pokok penjualan xxx
Ciri-ciri system fisik atau periodik adalah sebagai berikut:
a) Pemasukan dan pengeluaran persediaan tidak dicatat dan tidak diperhitungkan dalam suatu catatan tertentu.
b) Pembelian barang dicatat dengan mendebit rekening pembelian bukan persediaan barangn
c) Perhitungan persediaan akhir sekaligus digunakan untuk perhitungan harga pokok penjualan dengan menggunakan jurnal penyesuaian.
Sistem fisik biasanya digunakan pada perusahaan yang jenis persediaannya banyak tetapi nilai persediaan per unitnya kecil, misalnya toko bahan bangunan. Sistem ini cukup sederhana dan mudah diterapkan, tetapi kurang baik untuk pengawasan persediaan karena kekurangan persediaan yang hilang tidak dapat dideteksi dan menejemen tidak memiliki alat untuk mengetahui jumlah persediaan setiap saat.
2) Sistem Perpetual (Perpetual Inventory System)
Sistem persediaan perpetual adalah suatu system yang menyelenggarakan pencatatan terus-menerus yang menelusuri persediaan dan harga pokok penjualan atas dasar harian. Perkiraan persediaan didukung dalam kartu-kartu pembantu persediaan (kartu persediaan). Kartu persediaan digunakan untuk mencatat transaksi setiap jenis persediaan, memuat nama barang,tempat penyimpanan barang, kode barang dan kolom-kolom yang dipakai untuk mencatat transaksi adalah tanggal, pembelian (pemasukan), penjualan(pengeluaran),dan sisa atau saldo persediaan.
Sistem perpetual memudahkan dalam penyusunan neraca dan laporan perhitungan laba rugi karena penentuan persediaan akhir tidak perlu lagi menghitung fisiknya tetapi perhitungan fisiknya tetap dilakukan untuk tujuan pengawasan terhadap persediaan barang. Sistem perpetual biasanya digunakan pada perusahaan yang jenis persediaamya tidak banyak tetapi nilai persediaan per unitnya besar, misalnya dealer mobil dan toko emas
5. Metode Penilaian Persediaan
Metode yang dapat dipakai untuk menentukan besarnya nilai persediaan ada beberapa macam. Nilai persediaan mempunyai pengaruh yang sangat besar terhadap penyusunan laporan keungan baik dalam neraca maupun laporan perhitungan laba rugi. Nilai persediaan yang tercantum dalam neraca menunjukkan nilai kekayaan yang berdasarkan prinsip hati-hati menghendaki nilai mana yang terendah. Sedangkan nilai persediaan untuk kepentingan perhitungan lada rugi dihadapkan kepada kepentingan penentuan laba yang diperoleh perusahaan. Metode penilaian persediaan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan adalah sebagai beriku:
1. Metode Harga Perolehan
a. Metode Masuk Pertama Keluar Pertama ( First In First Out)
Metode first in first out (FIFO) adalah metode penilaiaan persediaan yang menganggap barang yang pertama kali masuk diasumsikan keluar pertama kali pula. Pada umumnya perusahaan menggunakan metode ini, sebab metode ini perhitungannya sangat sederhna baik system fisik maupun system perpetual akan menghasilkan penilaian persediaan yang sama.
Cara menghitung persediaan akhir adalah sebagai berikut:
Persediaan awal xxx
Pembelian xxx
Tersedia untuk dijual xxx
Penjualan (xxx)
Persediaan akhir xxx
Metode FIFO yang didasarkan atas system fisik, nilai persediaan akhir ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok perunit barang yang terakhir kali masuk, bila saldo fisik ternyata lebih besar dari jumlah unit terakhir masuk maka sisanya diambilkan dari harga poko per unit yang masuk sebelumnya. Sedangkan pada system perpetual pencatatan persediaan dilakukan secara terus-menerus dalam kartu persediaan. Pada system ini apabila ada transaksi penjualan maka akan dijurnal dua kali, pertama mencatat harga pokok pejualan dan yang kedua mencatat harga pokok barang yang dijual, seperti berikut ini:
Kas/ piutang dagang xxx
Penjualan xxx
HPP xxx
Persediaan barang xxx
b. Metode Masuk Terakhir Keluar Pertama ( Last In First Out)
Metode Last In First Out ( LIFO) adalah metode penilaiaan persediaan yang terakhir masuk diasumsikan akan keluar atau dijual pertama kali. Metode ini memiliki konsep yang cukup sederhana namun sulit dilaksanakan. Pengaruh penggunaan metode LIFO terhadap penentuan laba bersih usaha, jika harga cenderung naik maka laba perusahaan terlalu kecil atau sebaliknya.
Metode LIFO secara system fisik ditentukan dengan cara saldo fisik yang ada dikalikan harga pokok perunit barang yang masuk pada awal periode bila saldo fisik ternyata lebih besar dari barang yang masuk pada awal periode maka diambilkan dari harga pokok perunit yang masuk berikutnya. Sedangkan dengan sistem perpetual, setiap kali ada transaksi baik pembelian maupun penjualan dicatat dalam kartu persediaan.
c. Metode Rata-rata (Average Method)
Metode harga pokok rata-rata adalah suatu metode penilaian persediaan yang didasari atas harga rata-rata dalam periode yang bersangkutan. Besar kecilnya nilai persediaan yang masih ada dan harga pokok barang yang dijual, dipengaruhi oleh metode yang dipakai dalam metode ini adalah:
1) Metode rata-rata sederhana:
Biaya per unit = Total harga per unit pembelian
Frekuensi pembelian
Nilai persediaan akhir = Persediaan akhir x biaya per unit
Harga pokok penjualan =Unit yang dikeluarkan x biaya perunit
2) Metode rata-rata tertimbang:
Biaya per unit = Jumlah harga perunit x banyaknya unit
Banyaknya unit
Nilai persediaan akhir = persediaan akhir xbiaya perunit
3) Metode rata-rata bergerak:
Metode ini dipakai digunakan dengan kartu persediaan dan harga pokok perunit persediaan selalu berubah setiap terjadi pembelian barang baru.
Harga pokok rata-rata = harga perolehan lama + harga perolehan baru
Unit barang lama + unit barang baru
III. METODELOGI PENELITIAN
1. Objek Penelitian
Penelitian ini dilakukan pada MINI MARKET KEPOLISIAN KORP BRIGADE MOBIL yang beralamatkan di Jl. Akses UI, Cimanggis, Depok.
2. Data Yang Digunakan
Dalam penelitian ilmiah ini, peneliti memerlukan banyak data yang digunakan sebagai sumber informasi. Data yang digunakan tersebut berupa data persediaan barang dagang berupa gula pasir.
3. Metode Pengumpulan Data
Dalam penyusunan penelitian ilmiah ini, penulis menggunakan data:
a) Data primer yaitu data yang diperoleh langsung dari objek penelitian. Dalam hal ini peneliti melakukan observasi pada MINI MARKET untuk mendapatkan data yang akurat.
b) Data sekunder yaitu data atau informasi yang berasal dari luar perusahaan atau tidak langsung. Data ini didapat dari kepustakaan atau buku literatur yang berhubungan dengan masalah yang diteliti.
4. Alat Analisis Yang Digunalan
Alat analisis yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode:
1. Metode FIFO ( First In First Out)
Metode first in first out (FIFO) adalah metode penilaiaan persediaan yang menganggap barang yang pertama kali masuk diasumsikan keluar pertama kali pula.
2. Metode LIFO (Last In Fist Out)
Metode Last In First Out ( LIFO) adalah metode penilaiaan persediaan yang terakhir masuk diasumsikan akan keluar atau dijual pertama kali.
3. Metode rata-rata sederhana ( Simple Average Method)
Metode harga pokok rata-rata adalah suatu metode penilaian persediaan yang didasari atas harga rata-rata dalam periode yang bersangkutan.
Harga rata-rata per unit = jumlah harga perunit
Jumlah transaksi pembelian
IV. DAFTAR PUSTAKA
Handoko, T.Hani, 2000,Dasar-dasar Manajemen Produksi dan Operasi, Edisi Pertama, Cetakan Kesembilan, BPFE, Yogyakarta.
Riyanto, Bambang, 2000, Dasar-dasar Pembelanjaan Perusahaan, Edisi keempat, BPFE, Yogyakarta.
Widodo, Eko dan Miswanto, 1998, Manajemen Keuangan 1, Seri Diktat KuliahUG, Jakarta.
Minggu, 30 Mei 2010
AKUN – AKUN PERUSAHAAN DAGANG
Akun-akun yang merupakan ciri khas perusahaan dagang selain seperti yang terdapat di perusahaan jasa adalah sebagai berikut :
1. Akun pembelian di sisi debit (D)
2. Akun penjualan dicatat di sisi kredit (K)
3. Akun potongan pembelian dicatat di sisi kredit (K)
4. Akun potongan penjualan dicatat di sisi Debit (D)
5. Akun retur pembelian dicatat di sisi kredit (K)
6. Akun retur penjualan dicatat di sisi debit (D)
7. Akun biaya angkut pembelian dicatat di sisi debit (D)
8. Akun biaya pengiriman dicatat di sisi debit (D)
9. Akun persediaan barang dagang dicatat di sisi debit (D)
10. Akun utang usaha dicatat di sisi kredit (K)
11. Akun piutang usaha dicatat di sisi debit (D)
12. Harga pokok penjualan dicatat di sisi debit (D)
Penjelasan akun-akun sabagai berikut:
Akun Pembelian
Akun pembelian terjadi karena perusahaan membeli barang dagang dengan tujuan untuk dijual kembali. Pembelian barang dagang ini dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu pembelian tunai, pembelian kredit, pembelian sebagian tunai dan sebagian kredit.
Untuk pembelian barang yang tidak untuk dijual kembali dicatat dalam akun berbeda. Pembelian selain barang dagang misalnya pembelian peralatan dicatat pada akun peralatan dan jika yang dibeli perlengkapan maka dicatat pada akun perlengkapan. Dokumen sumber yang diperoleh dari kegiatan pembelian tersebut adalah faktur atau kuitansi.
Akun Penjualan
Akun penjualan terjadi karena perusahaan menjual barang dagang yang diperoleh dari pemasok dan dengan tujuan untuk memperoleh laba. Penjualan dapat dilakukan dengan tunai, kredit, dan dengan sistem uang muka yang sisanya dapat diangsur, dengan diikuti syarat pembayaran dan syarat penyerahan. Dasar pencatatannya adalah faktur (jika dengan kredit) dan bukti penerimaan kas jika dengan tunai.
Akun Potongan Pembelian
Akun potongan pembelian ini terjadi karena penjual memberikan potongan kepada pembeli, dengan tujuan agar pembeli melunasi utangnya sebelum jatuh tempo atau tepat pada waktu yang telah disepakati. Selama masih dalam masa potongan, maka utang yang dibayar adalah harga faktur dikurangi dengan potongan yang diterima. Dasar pencatatannya adalah kuitansi atau faktur yang distempel lunas.
Akun Potongan Penjualan
Akun potongan penjualan ini merupakan pencatatan atas potongan yang diberikan oleh penjual dengan harapan agar tagihannya dapat segera dilunasi. Potongan ini akan mengurangi tagihan yang diterima penjual sehingga jumlah yang diterima oleh penjual sebesar jumlah tagihan dikurangi dengan potongan yang diberikan. Dasar pencatatannya adalah bukti kas masuk dari pelunasan piutang yang di dalamnya dijelaskan besarnya potongan.
Akun Retur Pembelian
Akun retur pembelian ini terjadi karena pembeli mengembalikan sebagian barang yang telah dibeli atau ada sebagian yang rusak dan tidak cocok dengan pesanan. Jika pengembalian barang yang dibeli dilakukan secara tunai, maka penjual akan mengembalikan besarnya retur dengan tunai juga. Akan tetapi, jika pada waktu membeli barang itu dilakukan secara kredit, maka besarnya retur akan mengurangi harga fakturnya. Dasar pencatatannya berupa nota debit.
Akun Retur Penjualan
Akun retur penjualan terjadi karena penjual menerima kembali sebagian barang yang telah dijual karena mutunya tidak sesuai dengan pesanan. Pengembalian barang ini oleh penjual akan mengurangi tagihannya kepada pembeli. Dasar pencatatannya berupa nota kredit.
Akun Biaya Angkut
Akun biaya angkut ini terjadi ketika pembeli harus membayar ongkos agar barang yang dibeli sampai ke gudang pembeli. Dengan demikian harga perolehannya terdiri dari harga beli barang ditambah beban angkutnya. Dasar pencatatannya berupa bukti kas keluar atau kuitansi
Akun Biaya Pengiriman
Akun biaya pengiriman atau beban ini terjadi karena penjual bersedia mengirim barang dari toko (penjual) sampai di tempat pembeli. Hal ini terjadi karena pada waktu transaksi jual-beli telah dicantumkan dalam syarat penyerahan, bahwa penjual menanggung ongkos kirim. Bukti pencatatannya berupa bukti kas keluar atau kuintansi.
Akun Persediaan
Akun persediaan ini merupakan nilai persediaan barang dagang yang belum terjual pada akhir periode akuntansi, yang dicatat dengan nilai realisasi bersih (menurut SAK). Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga penjualan dalam kegiatan normal dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan.
1. Akun pembelian di sisi debit (D)
2. Akun penjualan dicatat di sisi kredit (K)
3. Akun potongan pembelian dicatat di sisi kredit (K)
4. Akun potongan penjualan dicatat di sisi Debit (D)
5. Akun retur pembelian dicatat di sisi kredit (K)
6. Akun retur penjualan dicatat di sisi debit (D)
7. Akun biaya angkut pembelian dicatat di sisi debit (D)
8. Akun biaya pengiriman dicatat di sisi debit (D)
9. Akun persediaan barang dagang dicatat di sisi debit (D)
10. Akun utang usaha dicatat di sisi kredit (K)
11. Akun piutang usaha dicatat di sisi debit (D)
12. Harga pokok penjualan dicatat di sisi debit (D)
Penjelasan akun-akun sabagai berikut:
Akun Pembelian
Akun pembelian terjadi karena perusahaan membeli barang dagang dengan tujuan untuk dijual kembali. Pembelian barang dagang ini dapat dilakukan dengan tiga cara, yaitu pembelian tunai, pembelian kredit, pembelian sebagian tunai dan sebagian kredit.
Untuk pembelian barang yang tidak untuk dijual kembali dicatat dalam akun berbeda. Pembelian selain barang dagang misalnya pembelian peralatan dicatat pada akun peralatan dan jika yang dibeli perlengkapan maka dicatat pada akun perlengkapan. Dokumen sumber yang diperoleh dari kegiatan pembelian tersebut adalah faktur atau kuitansi.
Akun Penjualan
Akun penjualan terjadi karena perusahaan menjual barang dagang yang diperoleh dari pemasok dan dengan tujuan untuk memperoleh laba. Penjualan dapat dilakukan dengan tunai, kredit, dan dengan sistem uang muka yang sisanya dapat diangsur, dengan diikuti syarat pembayaran dan syarat penyerahan. Dasar pencatatannya adalah faktur (jika dengan kredit) dan bukti penerimaan kas jika dengan tunai.
Akun Potongan Pembelian
Akun potongan pembelian ini terjadi karena penjual memberikan potongan kepada pembeli, dengan tujuan agar pembeli melunasi utangnya sebelum jatuh tempo atau tepat pada waktu yang telah disepakati. Selama masih dalam masa potongan, maka utang yang dibayar adalah harga faktur dikurangi dengan potongan yang diterima. Dasar pencatatannya adalah kuitansi atau faktur yang distempel lunas.
Akun Potongan Penjualan
Akun potongan penjualan ini merupakan pencatatan atas potongan yang diberikan oleh penjual dengan harapan agar tagihannya dapat segera dilunasi. Potongan ini akan mengurangi tagihan yang diterima penjual sehingga jumlah yang diterima oleh penjual sebesar jumlah tagihan dikurangi dengan potongan yang diberikan. Dasar pencatatannya adalah bukti kas masuk dari pelunasan piutang yang di dalamnya dijelaskan besarnya potongan.
Akun Retur Pembelian
Akun retur pembelian ini terjadi karena pembeli mengembalikan sebagian barang yang telah dibeli atau ada sebagian yang rusak dan tidak cocok dengan pesanan. Jika pengembalian barang yang dibeli dilakukan secara tunai, maka penjual akan mengembalikan besarnya retur dengan tunai juga. Akan tetapi, jika pada waktu membeli barang itu dilakukan secara kredit, maka besarnya retur akan mengurangi harga fakturnya. Dasar pencatatannya berupa nota debit.
Akun Retur Penjualan
Akun retur penjualan terjadi karena penjual menerima kembali sebagian barang yang telah dijual karena mutunya tidak sesuai dengan pesanan. Pengembalian barang ini oleh penjual akan mengurangi tagihannya kepada pembeli. Dasar pencatatannya berupa nota kredit.
Akun Biaya Angkut
Akun biaya angkut ini terjadi ketika pembeli harus membayar ongkos agar barang yang dibeli sampai ke gudang pembeli. Dengan demikian harga perolehannya terdiri dari harga beli barang ditambah beban angkutnya. Dasar pencatatannya berupa bukti kas keluar atau kuitansi
Akun Biaya Pengiriman
Akun biaya pengiriman atau beban ini terjadi karena penjual bersedia mengirim barang dari toko (penjual) sampai di tempat pembeli. Hal ini terjadi karena pada waktu transaksi jual-beli telah dicantumkan dalam syarat penyerahan, bahwa penjual menanggung ongkos kirim. Bukti pencatatannya berupa bukti kas keluar atau kuintansi.
Akun Persediaan
Akun persediaan ini merupakan nilai persediaan barang dagang yang belum terjual pada akhir periode akuntansi, yang dicatat dengan nilai realisasi bersih (menurut SAK). Nilai realisasi bersih adalah taksiran harga penjualan dalam kegiatan normal dikurangi taksiran biaya penyelesaian dan taksiran biaya yang diperlukan untuk melaksanakan penjualan.
PERSEDIAAN
PERSEDIAAN
Pengertian Persediaan
Menurut Prof. Dr. Zaki Baridwan, M.Sc,. Ak (2004:149) mengemukakan :
“Secara umum istilah persediaan barang dipakai untuk menunjukkan barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali dan digunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan dijual”.
Jenis-Jenis Persediaan
Bagi perusahaan dagang
1. Persediaan barang dagangan untuk menyatakan barang-barang yang dimiliki dengan tujuan akan dijual kembali dimasa yang akan datang. Barang-barang ini secara fisik tidak akan berubah sampai dengan barang-barang tersebut dijual kembali.
2. Lain-lain persediaan, seperti supplies kantor (toko), dan alat-alat pembungkus da lain sebagainya. Barang-barang ini biasanya akan dipakai (dikonsumsikan) dalam jangka waktu relatif pendek dan akan dibebankan sebagai biaya administrasi dan umum atau biaya pemasaran. Oleh karena itu biasanya terhadap jenis persediaan ini diperlakukan sebagai biaya(biaya dibayar dimuka) atau persediaan supplies.
Bagi perusahaan industri (manufaktur)
1. Persediaan bahan baku untuk menyatakan barang-barang yang dibeli atau diperoleh dari sumber alam yang dimiliki dengan tujuan untuk diolah menjadi produk jadi.
2. Persediaan produk dalam proses, meliputi barang-barang yang masih dalam pengerjaan dan memerlukan pengerjaan lebih lanjut sebelum barang itu dijual.
3. Persediaan produk jadi, meliputi semua barang-barang yang telah diselesaikan dari proses produksi dan siap untuk dijual.
4. Persediaan barang penolong, meliputi semua barang yang dimiliki untuk keperluan produksi, akan tetapi bukan merupakan bahan baku untuk membentuk produk jadi.
5. lain-lain persediaan, misalnya supplies kantor, alat-alat pembungkus.
Penentu Nilai Persediaan
Menurut Zaki Baridwan (2004:158), ada beberapa cara yang digunakan dalam menghitung harga pokok penjualan dan harga pokok persediaan akhir, antara lain :
a. Identifikasi khusus
b. Masuk Pertama Keluar Pertama(FIFO)
c. Rata-Rata Tertimbang (Weighted Average)
d. Masuk Terakhir Keluar Pertama (LIFO)
Pengertian Persediaan
Menurut Prof. Dr. Zaki Baridwan, M.Sc,. Ak (2004:149) mengemukakan :
“Secara umum istilah persediaan barang dipakai untuk menunjukkan barang-barang yang dimiliki untuk dijual kembali dan digunakan untuk memproduksi barang-barang yang akan dijual”.
Jenis-Jenis Persediaan
Bagi perusahaan dagang
1. Persediaan barang dagangan untuk menyatakan barang-barang yang dimiliki dengan tujuan akan dijual kembali dimasa yang akan datang. Barang-barang ini secara fisik tidak akan berubah sampai dengan barang-barang tersebut dijual kembali.
2. Lain-lain persediaan, seperti supplies kantor (toko), dan alat-alat pembungkus da lain sebagainya. Barang-barang ini biasanya akan dipakai (dikonsumsikan) dalam jangka waktu relatif pendek dan akan dibebankan sebagai biaya administrasi dan umum atau biaya pemasaran. Oleh karena itu biasanya terhadap jenis persediaan ini diperlakukan sebagai biaya(biaya dibayar dimuka) atau persediaan supplies.
Bagi perusahaan industri (manufaktur)
1. Persediaan bahan baku untuk menyatakan barang-barang yang dibeli atau diperoleh dari sumber alam yang dimiliki dengan tujuan untuk diolah menjadi produk jadi.
2. Persediaan produk dalam proses, meliputi barang-barang yang masih dalam pengerjaan dan memerlukan pengerjaan lebih lanjut sebelum barang itu dijual.
3. Persediaan produk jadi, meliputi semua barang-barang yang telah diselesaikan dari proses produksi dan siap untuk dijual.
4. Persediaan barang penolong, meliputi semua barang yang dimiliki untuk keperluan produksi, akan tetapi bukan merupakan bahan baku untuk membentuk produk jadi.
5. lain-lain persediaan, misalnya supplies kantor, alat-alat pembungkus.
Penentu Nilai Persediaan
Menurut Zaki Baridwan (2004:158), ada beberapa cara yang digunakan dalam menghitung harga pokok penjualan dan harga pokok persediaan akhir, antara lain :
a. Identifikasi khusus
b. Masuk Pertama Keluar Pertama(FIFO)
c. Rata-Rata Tertimbang (Weighted Average)
d. Masuk Terakhir Keluar Pertama (LIFO)
Langganan:
Postingan (Atom)
